Harga Rujak di SPBU Tiban Naik Jadi Rp18 Ribu

Ekonomi – Dolar Menguat, Harga Rujak di SPBU Tiban Naik Jadi Rp18 Ribu. Penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) pada Rabu (20/5/2026) di kisaran Rp17.700–Rp17.745 per USD.

Keadaan ini mulai berdampak pada sejumlah harga kebutuhan masyarakat, terutama di sektor pangan dan usaha makanan kaki lima di daerah.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Apindo Batam, Rafki Rasyid, mengatakan penguatan dolar dalam dua hari terakhir mulai terasa di tingkat masyarakat, khususnya pada bahan baku yang digunakan pelaku usaha kecil maupun pedagang kaki lima.

“Dengan menguatnya dolar, tentunya masyarakat mengalami kenaikan dalam dua hari terakhir,” katanya, Rabu (20/5).

Ia menjelaskan, kenaikan tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh nilai tukar, tetapi juga kondisi harga bahan pangan di pasar yang ikut bergerak naik dalam beberapa hari terakhir.

Pedagang kaki lima

Dampak kenaikan harga mulai terlihat di lapangan, salah satunya pada pedagang kaki lima di kawasan SPBU Tiban. Harga rujak di lokasi tersebut naik dari Rp15.000 menjadi Rp18.000 dalam kurun waktu dua hari terakhir.

Penjual rujak, Tatti (32), mengatakan kenaikan harga tersebut terjadi karena seluruh bahan baku yang digunakan ikut mengalami kenaikan di pasar tradisional.

“Semua bahan seperti buah, cabai, dan bumbu sekarang naik. Kami juga menyesuaikan harga jual agar tidak merugi,” ujarnya.

Menurutnya, kenaikan harga bahan baku membuat biaya produksi meningkat cukup terasa, sehingga penyesuaian harga menjadi pilihan yang tidak dapat dihindari.

Pasar tradisional masih terpantau stabil

Sementara itu, harga bayam di pasar tradisional masih terpantau stabil meski terjadi penguatan dolar.

Komoditas sayuran daun ini dinilai lebih banyak dipengaruhi faktor lokal seperti pasokan hasil panen, cuaca, dan distribusi dari sentra produksi, sehingga tidak terlalu terpengaruh oleh pergerakan nilai tukar.

Sejumlah pedagang menyebut harga bayam dalam beberapa hari terakhir masih berada pada kisaran normal dan belum menunjukkan perubahan berarti di pasar.

Berbeda dengan bayam, harga cabai cenderung lebih cepat berubah dan lebih sensitif terhadap kondisi biaya produksi.

Hal ini dipengaruhi ketergantungan pada input pertanian seperti benih, pupuk, serta pestisida, serta fluktuasi pasokan akibat cuaca yang tidak menentu.

Kombinasi faktor tersebut membuat cabai lebih mudah mengalami kenaikan harga dibandingkan sayuran daun seperti bayam, terutama ketika terjadi tekanan biaya dari pasar global maupun distribusi.

Dengan kondisi tersebut, penguatan dolar pada 20 Mei 2026 disebut mulai memberikan dampak berantai ke sejumlah komoditas dan usaha kecil, meski tingkat pengaruhnya berbeda-beda tergantung jenis barang dan struktur produksinya.

Posted in Bisnis, Ekonomi and tagged , .