KEPRI – Kesehatan – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkirakan terdapat sekitar 13.000 kasus tuberkulosis (TBC) di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Namun, hingga kini baru sekitar 6.000–7.000 kasus yang berhasil ditemukan dan tercatat dalam penanganan kesehatan.
Kesenjangan tersebut menunjukkan masih banyak kasus TBC yang diperkirakan belum terdeteksi di tengah masyarakat. Kondisi ini menjadi tantangan pemerintah dalam memutus rantai penularan penyakit yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis tersebut.
Untuk mengejar penemuan kasus, Kemenkes menyiapkan 10 unit alat X-ray bagi Kepri. Peralatan pemeriksaan itu ditargetkan diserahkan kepada pemerintah daerah pada Oktober mendatang.
Penanggulangan TBC
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengatakan penguatan deteksi merupakan salah satu strategi penting dalam penanggulangan TBC. Pemerintah saat ini tidak hanya berfokus pada keberhasilan pengobatan pasien, tetapi juga berupaya menemukan penderita yang belum teridentifikasi.
“Persoalan kita bukan lagi bagaimana mengobati pasien TBC, karena tingkat keberhasilan pengobatannya sudah sangat baik. Tantangan kita adalah menemukan kasus dan mencegah orang yang kontak erat agar tidak ikut sakit,” katanya, Jumat (11/9) sore.
Menurut dia, penemuan kasus secara aktif diperlukan untuk mencegah penderita yang belum mendapatkan pengobatan menjadi sumber penularan bagi orang lain. Pemeriksaan juga diarahkan kepada masyarakat yang memiliki risiko maupun mereka yang melakukan kontak erat dengan pasien TBC.
Penyediaan 10 unit X-ray di Kepri diharapkan memperluas jangkauan pemeriksaan, terutama melalui fasilitas pelayanan kesehatan. Peralatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat kemampuan fasilitas kesehatan dalam mendeteksi kasus lebih dini.
Selain perangkat pemeriksaan, Kemenkes menyiapkan pembiayaan untuk mendukung kegiatan penemuan kasus di lapangan. Pemerintah pusat juga memberikan dukungan kepada tenaga kesehatan, radiografer, dokter, hingga kader yang terlibat dalam program penanggulangan TBC.
Secara nasional, pemerintah menargetkan pemerataan fasilitas pemeriksaan TBC dengan menyediakan alat X-ray di puskesmas. Penyediaan peralatan tersebut juga akan disertai dukungan tenaga radiografer serta peremajaan fasilitas kesehatan.
Langkah itu dinilai penting karena penanganan TBC tidak cukup hanya mengandalkan pengobatan terhadap pasien yang sudah terdiagnosis. Semakin banyak kasus ditemukan lebih awal, semakin cepat pula penderita mendapatkan pengobatan sehingga potensi penularan dapat ditekan.
Bagi Kepri, tambahan fasilitas pemeriksaan tersebut diharapkan mampu memperkecil selisih antara jumlah kasus yang diperkirakan dan kasus yang telah ditemukan. Dengan perkiraan 13.000 kasus dan baru sekitar 6.000–7.000 yang terdeteksi, pekerjaan rumah pemerintah masih cukup besar untuk menemukan penderita TBC yang belum teridentifikasi.
