Karhutla Natuna Pasang Surut, Petugas Berjuang Jinakkan Bara Ratusan Hektare

KEPRI – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, hingga kini belum sepenuhnya teratasi. Kondisi kebakaran cenderung pasang surut seiring hujan yang sesekali mengguyur sejumlah wilayah, tetapi belum mampu memadamkan seluruh titik api.

Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang memang membantu menurunkan jumlah titik panas. Namun, curah hujan tersebut belum cukup untuk membasahi lahan secara menyeluruh sehingga bara yang berada di dalam kawasan terbakar masih berpotensi kembali menyala.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)

Di tengah kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Natuna terus menyiagakan personel untuk melakukan penanganan. Petugas tidak hanya melakukan pemadaman, tetapi juga survei dan pemantauan lokasi serta sosialisasi kepada masyarakat untuk mencegah meluasnya kebakaran.

Karhutla yang berlangsung cukup lama menjadi tantangan tersendiri bagi petugas di lapangan. Personel harus bekerja berulang kali untuk memastikan bara yang masih tersisa benar-benar padam. Kondisi tersebut diperberat dengan keterbatasan peralatan pemadam yang dimiliki BPBD.

Untuk menjangkau bara yang berada di luar jangkauan selang air, petugas terpaksa mengandalkan sejumlah metode manual. Salah satunya dengan membuat lubang untuk menampung bara yang masih menyala, kemudian menimbunnya menggunakan tanah.

Petugas juga memukul bara menggunakan kayu hingga api padam. Selain itu, blower digunakan untuk meniup bara dan membantu menghentikan proses pembakaran.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Natuna Raja Darmika mengatakan cara-cara tersebut terpaksa dilakukan sebagai upaya mengendalikan kebakaran dengan peralatan yang tersedia.

“Letih betul memang, tapi apa boleh buat kita tak cukup alat. Selang air kita tidak bisa menjangkau jauh ke area api. Selang kita panjangnya cuma 150 meter, sementara zona api mencapai 300 meter lebih jauhnya,” katanya setelah dikonfirmasi wartawan, Rabu (9/9).

Menurut dia, penggunaan metode manual cukup membantu menghambat penyebaran api, terutama untuk menangani bara yang masih tersisa dan berpotensi kembali menyala ketika tertiup angin.

Namun, upaya tersebut membutuhkan tenaga dan waktu yang tidak sedikit. Luasan kawasan yang terdampak karhutla mencapai ratusan hektare sehingga petugas harus bekerja ekstra untuk menangani bara yang tersebar di sejumlah lokasi.

“Tapi kawasan kebakaran hutan kita sampai ratusan hektare dan baranya banyak betul. Kita mau tanam satu-satu lambat dan capek juga,” ujarnya.

Kondisi karhutla yang berlangsung cukup lama juga membuat personel dan peralatan harus terus bekerja di lapangan. BPBD Natuna tetap melakukan penanganan meski menghadapi keterbatasan sarana dan kondisi medan yang tidak mudah dijangkau.

Posted in Kepri and tagged .