Natuna Kehilangan Pasokan Ayam Beku 15 Ton

KEPRI – Satu Kontainer Kosong, Natuna Kehilangan Pasokan Ayam Beku 15 Ton. Keberangkatan satu kontainer berpendingin (reefer) dalam kondisi kosong dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, menuju Pelabuhan Selat Lampa, Natuna, berdampak pada berkurangnya pasokan daging ayam beku ke Kabupaten Natuna hingga 15 ton pada bulan ini.

Kontainer tersebut tercatat dalam manifes pelayaran KM Logistik Nusantara 4 dan sebelumnya direncanakan mengangkut daging ayam beku untuk memenuhi kebutuhan pasar di Natuna. Namun, karena tidak terisi muatan, volume pasokan yang masuk ke daerah perbatasan itu turun signifikan.

Kepala Cabang PT Sarana Bandar Logistik (SBL) Natuna, Anto Raswanto, mengatakan adanya penurunan pasokan akibat satu kontainer yang berangkat tanpa muatan.

“Bulan lalu ada tiga kontainer atau sekitar 45 ton. Karena satu kontainer kosong, bulan ini hanya sekitar 30 ton yang masuk ke Natuna,” katanya, Jumat (6/5).

Keberangkatan kontainer kosong

Kondisi tersebut menuai sorotan dari pengguna jasa tol laut. Mereka menilai keberangkatan kontainer kosong yang telah tercantum dalam manifes kapal menunjukkan lemahnya koordinasi distribusi logistik, khususnya untuk komoditas pangan strategis.

Salah seorang pengguna jasa yang enggan disebutkan namanya mengaku heran dengan kejadian tersebut. Menurutnya, kontainer yang telah tersegel semestinya sudah siap dimuat sebelum diberangkatkan.

“Seharusnya reefer itu digunakan untuk distribusi daging ayam beku ke Natuna. Tapi kenyataannya kosong meski sudah disegel,” ujarnya.

Selain mengurangi pasokan pangan, insiden ini juga menimbulkan pertanyaan di kalangan pelaku usaha mengingat jumlah kontainer reefer pada rute Jakarta–Natuna sangat terbatas. Mereka menilai setiap slot kontainer seharusnya dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung kebutuhan logistik masyarakat.

Akibat miskomunikas

Sementara itu, Staf Operasional Ekspedisi PT Multi Terminal Indonesia (MTI) Cabang Natuna, Tarkim, mengakui adanya satu kontainer yang berangkat tanpa muatan. Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut terjadi akibat miskomunikasi antara pihak pengirim dan pemasok.

“Memang ada satu kontainer yang kosong. Itu bukan faktor kesengajaan, melainkan karena miskomunikasi,” ujarnya saat dikonfirmasi di Pelabuhan Selat Lampa.

Menurut Tarkim, pihak ekspedisi telah menyampaikan jadwal penutupan (closing) muatan kepada pihak terkait. Namun hingga batas waktu yang ditentukan, barang yang akan dimuat belum tersedia.

“Besar kemungkinan pemasok belum siap, bisa karena stok belum tersedia atau faktor libur Lebaran,” katanya.

Ia menambahkan, kontainer tetap diberangkatkan demi menjaga jadwal pelayaran dan kelancaran arus logistik. Dalam sistem tol laut, setiap kontainer memiliki kapasitas hingga 20 ton dan digunakan secara bergantian pada setiap pelayaran.

“Statusnya barang ketinggalan kapal, sehingga kontainer tetap berangkat dalam kondisi kosong,” jelasnya.

Meski demikian, pengguna jasa menilai kejadian tersebut seharusnya dapat diantisipasi melalui koordinasi yang lebih baik. Mereka mendesak pihak terkait, termasuk operator tol laut, untuk memberikan penjelasan resmi serta melakukan evaluasi menyeluruh guna mencegah terulangnya insiden serupa.

Menurut mereka, transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan distribusi logistik sangat penting agar pasokan bahan pangan ke wilayah perbatasan seperti Natuna tetap terjaga dan tidak terganggu oleh persoalan administratif maupun komunikasi antarpihak.

Posted in Kepri and tagged .