Udara Memburuk, Anak-anak Batam Kembali Belajar dari Rumah

Batam – Memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kembali berdampak pada aktivitas pendidikan di Kota Batam. Pemerintah Kota Batam mengalihkan pembelajaran tatap muka menjadi belajar dari rumah (BDR) bagi siswa PAUD, SD, dan SMP negeri maupun swasta mulai Selasa (29/9).

Kebijakan tersebut diambil setelah kondisi kualitas udara di Batam masuk kategori tidak sehat. Kabut asap masih terlihat di sejumlah kawasan dan menyebabkan udara menjadi kabur, sehingga meningkatkan risiko paparan bagi masyarakat, termasuk anak-anak yang setiap hari beraktivitas di lingkungan sekolah.

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam mengatakan, hasil pemantauan satelit masih menunjukkan adanya sebaran asap di sejumlah wilayah Kepri. Kondisi tersebut menyebabkan udara kabur masih berpotensi terjadi di Batam dan daerah lainnya.

“Dari pantauan satelit, sebaran asap masih terdeteksi di sejumlah wilayah Kepri. Kondisi ini menyebabkan potensi udara kabur masih ada, termasuk di Batam,” kata prakirawan BMKG, Selasa (29/9).

Menurutnya, kondisi udara kabur di Batam berpotensi terjadi pada pagi hingga siang hari dan kembali muncul pada dini hari. Kondisi atmosfer dan arah angin turut memengaruhi penyebaran asap serta proses pembersihan udara.

Asap di wilayah Batam

“Untuk Batam, udara kabur masih berpotensi terjadi pada pagi sampai siang hari dan dapat kembali terjadi pada dini hari. Perubahan kondisi angin dan atmosfer akan memengaruhi sebaran asap di wilayah tersebut,” ujarnya.

Meski hujan ringan hingga sedang berpeluang terjadi di sejumlah wilayah, BMKG menyebut hujan belum serta-merta mengakhiri persoalan kabut asap. Sebaran asap dari luar wilayah Kepri masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi udara.

Dampak kabut asap tidak hanya dirasakan melalui jarak pandang yang menurun. Sejumlah warga juga mengeluhkan kondisi udara yang membuat mata perih dan tidak nyaman untuk beraktivitas di luar rumah.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kepri Saibansah Dardani mendukung kebijakan pemerintah mengalihkan pembelajaran ke rumah ketika kualitas udara berada pada kondisi tidak sehat.

“Kebijakan tersebut bagus, kami mendukung pemerintah provinsi untuk itu,” kata Saibansah.

Menurut dia, perlindungan terhadap kesehatan anak harus menjadi perhatian ketika kualitas udara memburuk. Namun, pelaksanaan BDR juga perlu memastikan proses pendidikan tetap berjalan sehingga siswa tetap mendapatkan pembelajaran meski tidak berada di ruang kelas.

Kondisi kabut asap juga membuat sekolah harus menyesuaikan kegiatan belajar dengan situasi lingkungan. Guru dan orang tua memiliki peran penting agar pembelajaran dari rumah tidak hanya menjadi penghentian sementara aktivitas sekolah, tetapi tetap memberikan materi dan pendampingan kepada siswa.

Dari sisi kesehatan, masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Penggunaan masker saat berada di luar rumah juga diperlukan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok yang rentan terhadap gangguan akibat polusi udara.

Warga yang mengalami keluhan seperti batuk, sesak napas, iritasi mata, atau gangguan pernapasan lainnya juga dianjurkan segera mendapatkan pemeriksaan kesehatan.

Kabut asap menjadi persoalan tersendiri bagi Kepri karena wilayah ini memiliki mobilitas masyarakat yang tinggi melalui jalur darat, laut, dan udara. Kondisi jarak pandang di kawasan pelabuhan dan Bandara Internasional Hang Nadim Batam pun perlu terus dipantau.

Belum meredanya kabut asap menunjukkan persoalan ini tidak hanya menyangkut aktivitas sekolah. Kondisi udara juga berkaitan dengan kesehatan masyarakat, transportasi, dan aktivitas ekonomi. Karena itu, pemantauan kualitas udara dan perkembangan sebaran asap masih diperlukan hingga kondisi kembali membaik.

Posted in Batam and tagged .