Lingga Dorong Hilirisasi Sagu Jadi Produk Bernilai Tambah

KEPRI – Pemerintah Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau (Kepri), mendorong hilirisasi sagu menjadi berbagai produk pangan bernilai tambah guna memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus mengoptimalkan potensi komoditas lokal.

Kepala Desa Panggak Laut, Lingga, Agung Yuda mengatakan pengolahan sagu di wilayahnya telah dilakukan secara turun-temurun dan menjadi salah satu sumber mata pencaharian masyarakat.

“Untuk kilang sagu ini hampir ada 20-an kilang di Desa Panggak Laut. Produksinya bisa 14 sampai 18 ton per bulan untuk satu kilang,” katanya Ketika dikonfirmasi wartawan, Kamis (13/8).

Menurut dia, potensi sagu di Kabupaten Lingga cukup besar karena tanaman tersebut tumbuh secara alami dan banyak ditemukan di sejumlah wilayah.

Selain Panggak Laut, produksi sagu juga terdapat di Desa Nerekeh, Musai, dan Teluk. Komoditas tersebut tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi mulai dikembangkan menjadi tepung, mi sagu, kue kering, hingga bahan pangan alternatif pengganti beras.

“Kalau tepung ada yang dikirim ke Batam, kemudian makanan kering dipasarkan di Lingga, Tanjungpinang maupun Batam. Ada juga yang dikirim ke Jambi,” ujarnnya.

Pengolahan Sagu

Dia mengatakan pengembangan sagu melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) turut membuka peluang bagi pelaku UMKM lokal untuk menghasilkan produk olahan dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Pengolahan sagu juga memberikan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja. Dari sekitar 500 penduduk Desa Panggak Laut, sekitar 40 hingga 50 persen masyarakat terlibat dalam usaha sagu, mulai dari penebangan hingga proses produksi di kilang.

Sementara itu, Direktur BUMDes Karya Mandiri, Mawardi, mengatakan pihaknya mengolah sagu kotor menjadi sagu bersih sebelum dikeringkan dan dikemas untuk dipasarkan.

“Proses pengeringan tergantung cuaca karena masih menggunakan cahaya matahari. Kalau panas, cepat kering,” tambahnya.

Tepung sagu dikemas dalam ukuran satu kilogram dengan harga sekitar Rp5.000 per kilogram. Ukuran kemasan juga dapat disesuaikan dengan permintaan konsumen, mulai dari lima hingga 20 kilogram.

Produk sagu dari Desa Panggak Laut jadi andalan

Menurut Mawardi, produk sagu dari Desa Panggak Laut telah dipasarkan ke sejumlah daerah, terutama Batam dan Tanjungpinang.

“Banyak pelanggan kami di Batam dan Tanjungpinang, biasanya kami kirim ke sana,” jelasnya.

Pengembangan usaha tersebut turut mendapat dukungan Bank Indonesia melalui program peningkatan mutu produksi sagu di Kabupaten Lingga pada 2023.

Dukungan tersebut mencakup permodalan, aset, peralatan produksi, hingga mesin pengemasan.

“Mereka telah membantu untuk permodalan, alat produksi hingga mesin pengemasan. Alhamdulillah dukungannya luar biasa. Tanpa dukungan BI, ini tidak bisa kami teruskan karena kami membutuhkan bantuan modal,” ujarnya.

Posted in Kepri and tagged .