Harga Buncis di Tiga Pasar Tradisional Batam Mengalami Fluktuasi

Ekonomi – Dipengaruhi Gangguan Pasokan dan Cuaca, harga komoditas buncis di sejumlah pasar tradisional di Kota Batam dilaporkan mengalami fluktuasi dalam beberapa pekan terakhir.

Perubahan harga tersebut tidak seragam antar pasar, namun masih berada dalam kisaran yang relatif terkendali dibandingkan sejumlah komoditas hortikultura lainnya.

Berdasarkan pemantauan Media Indonesia, Minggu (24/5), di beberapa pasar tradisional, harga buncis saat ini berada pada kisaran Rp12.000 hingga Rp18.000 per kilogram, tergantung lokasi pasar, kualitas barang, serta kondisi pasokan harian yang diterima pedagang.

Sementara itu, rata-rata harga buncis di Kota Batam tercatat sekitar Rp12.000 per kilogram, dengan rata-rata Provinsi Kepulauan Riau berada di kisaran Rp12.571 per kilogram.

Fluktuasi harga paling terlihat di pasar-pasar tradisional yang memiliki ketergantungan lebih tinggi terhadap distribusi dari luar daerah. Sebagian pasar masih mencatat harga yang relatif stabil di kisaran bawah, sementara pasar lainnya mengalami kenaikan akibat terbatasnya pasokan pada waktu tertentu.

Bergantung pada kelancaran distribusi harian.

Pedagang menyebutkan bahwa perbedaan harga antar pasar merupakan kondisi yang umum terjadi, terutama pada komoditas sayuran segar yang memiliki daya tahan terbatas dan sangat bergantung pada kelancaran distribusi harian.

Kondisi ini menyebabkan harga dapat berubah dalam waktu singkat, bahkan dalam rentang hari yang berdekatan.

Sejumlah faktor diduga menjadi penyebab utama terjadinya fluktuasi harga buncis di Batam. Faktor pertama adalah kondisi cuaca, khususnya musim hujan yang dapat mengganggu proses panen serta memperlambat distribusi dari daerah pemasok di luar Pulau Batam, terutama dari wilayah Sumatera.

Komoditas sayuran yang dikirim dari luar daera

Selain itu, biaya transportasi yang tidak stabil juga berpengaruh terhadap harga jual di tingkat pedagang. Kenaikan biaya logistik sering kali langsung berdampak pada harga komoditas sayuran yang dikirim dari luar daerah.

Faktor lain yang turut memengaruhi adalah perbedaan harga dari tingkat distributor atau agen pemasok, serta tingkat permintaan pasar yang cenderung meningkat pada periode tertentu.

Fluktuasi harga buncis turut dirasakan oleh masyarakat sebagai konsumen. Nadia, 32, seorang ibu rumah tangga di Pasar Jodoh, mengaku mulai merasakan adanya kenaikan harga meskipun masih dalam batas yang dapat ditoleransi.

“Sekarang kadang Rp15 ribu sampai Rp18 ribu per kilo. Naik sedikit memang terasa, tapi masih harus beli karena untuk masak sehari-hari,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Marlina, 37, yang menyebutkan bahwa harga buncis di pasar tradisional cukup bervariasi tergantung kondisi stok harian.

“Kadang masih dapat Rp12 ribu, tapi kalau barangnya sedikit bisa lebih mahal. Jadi harus pintar-pintar pilih hari belanja,” katanya.

Sementara itu, Rahmat, 50, seorang pedagang sayur di salah satu pasar tradisional Batam, mengatakan bahwa fluktuasi harga dipengaruhi oleh ketidakstabilan pasokan dari pemasok luar daerah.

“Barang dari agen kadang datang tidak stabil, apalagi kalau cuaca buruk. Jadi harga juga ikut naik turun. Kami jual juga menyesuaikan modal,” jelasnya.

Menurutnya, kondisi tersebut merupakan hal yang umum terjadi pada komoditas sayuran segar yang sangat bergantung pada distribusi harian.

Meski mengalami fluktuasi di beberapa titik, harga buncis di Batam secara umum masih tergolong stabil dan belum menunjukkan lonjakan signifikan.

Kondisi ini dinilai masih dalam batas wajar untuk komoditas hortikultura yang sensitif terhadap perubahan pasokan. Sejumlah pedagang berharap distribusi barang dari daerah pemasok tetap lancar agar harga di tingkat konsumen dapat lebih stabil.

Posted in Batam, Ekonomi and tagged .