Ekonomi – Harga Sayur Mayur di Batam Relatif Stabil, Pelemahan Rupiah Beri Tekanan Biaya Distribusi. Harga sayur mayur di sejumlah pasar tradisional Batam, seperti Pasar Tos 3000, Bengkong, dan Batu Aji, terpantau relatif stabil pada Selasa (12/5).
Meski demikian, pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh level sekitar Rp17.500 per dolar AS mulai memberikan tekanan tidak langsung terhadap biaya distribusi dan pergerakan harga komoditas pangan.
Berdasarkan pantauan Media Indonesia di lapangan (12/5), harga sayuran hijau seperti bayam, kangkung, dan sawi masih berada dalam kisaran Rp18.000–Rp24.000 per kilogram. Harga komoditas lain juga relatif stabil, dengan kol di kisaran Rp4.000–Rp8.000 per kilogram, wortel Rp10.000–Rp15.000 per kilogram, timun Rp12.000–Rp16.000 per kilogram, serta tomat Rp18.000–Rp23.000 per kilogram. Pasokan dari daerah pemasok masih lancar, sehingga aktivitas jual beli berjalan normal.
Pelemahan nilai tukar rupiah
Sejumlah pedagang mengakui adanya tekanan biaya yang mulai terasa di tengah pelemahan nilai tukar rupiah. Ita, 40, pedagang sayur di Pasar Tos 3000, mengatakan bahwa harga beli dari pemasok sejauh ini belum mengalami kenaikan yang signifikan. Namun, ia menyebut biaya angkut barang dari luar daerah sudah mulai meningkat.
“Kalau rupiah terus melemah, kami terpaksa menyesuaikan harga dalam waktu dekat agar tidak rugi,” ujarnya.
Senada dengan itu, Marini, 48, pedagang di Pasar Batu Aji, mengatakan bahwa cabai dan bawang menjadi komoditas paling sulit dikendalikan karena harganya sangat fluktuatif. Ia menyebut perubahan harga bisa terjadi dalam waktu singkat, bahkan dari hari ke hari.
“Cabai dan bawang ini yang paling sulit. Harganya bisa berubah setiap hari. Kemarin cabai rawit masih Rp60.000, hari ini sudah Rp75.000 per kilogram. Kami harus hati-hati stok, karena kalau terlalu banyak, bisa membusuk sebelum laku,” ujarnya.
Berhati-hati dalam berbelanja
Di sisi lain, pembeli menunjukkan sikap lebih berhati-hati dalam berbelanja di tengah fluktuasi harga sejumlah komoditas. Zira, 23, seorang ibu rumah tangga yang rutin berbelanja di Pasar Bengkong, mengatakan bahwa ia kini mengurangi jumlah pembelian cabai karena harganya yang tidak stabil.
“Saya biasanya beli cabai satu kilogram, sekarang cukup setengah kilo saja. Harganya fluktuatif sekali, takut nanti tiba-tiba naik lagi. Sayuran hijau masih oke, tapi untuk cabai dan bawang kami pilih hemat,” ujarnya.
Sementara itu, Manda, 22, pembeli di Pasar Tos 3000, menilai kualitas sayuran masih baik dengan pasokan yang relatif lancar. Namun ia mengaku mulai merasakan dampak tidak langsung dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap harga kebutuhan pokok.
“Kualitas sayurnya masih bagus dan pasokannya lancar, tapi kami merasakan dampak tidak langsung dari rupiah yang melemah. Semoga pemerintah bisa menjaga stabilitas agar harga tidak melonjak,” katanya.
Komoditas Fluktuatif
Cabai dan bawang tetap menjadi komoditas paling fluktuatif. Cabai berada pada kisaran Rp25.000–Rp80.000 per kilogram, bawang merah Rp30.000–Rp35.000 per kilogram, dan bawang putih Rp25.000–Rp30.000 per kilogram. Pergerakan harga yang cepat ini mengharuskan pedagang melakukan penyesuaian hampir setiap hari mengikuti pasokan dari sentra produksi.
Pelemahan rupiah turut memperbesar sensitivitas harga pangan terhadap biaya logistik, khususnya bagi komoditas yang bergantung pada pasokan luar daerah. Stabilitas harga di tingkat pasar sangat bergantung pada kelancaran rantai pasok dan respons cepat dari pemangku kepentingan terkait. (ama/MI)

