Minyakita Hilang, Pedagang Kecil Putar Otak Jaga Usaha

Batam – Keberadaan minyak goreng bersubsidi merek Minyakita kian sulit ditemukan di pasaran. Kondisi ini membuat para pedagang kecil harus memutar otak untuk menjaga kelangsungan usaha di tengah kenaikan harga minyak goreng lainnya.

Kelangkaan Minyakita dilaporkan Senin (20/4) terjadi di sejumlah pasar di Batam, seperti di Batu Aji, Bengkong, dan Tiban. Di wilayah-wilayah tersebut, pedagang mengaku stok minyak goreng subsidi itu sudah tidak tersedia dalam beberapa waktu terakhir.

Sejumlah pelaku usaha mikro mengaku terdampak langsung. Bandi, 22, pedagang makanan di Batam, mengatakan harga minyak goreng dalam beberapa waktu terakhir terus mengalami kenaikan, sementara Minyakita yang biasa ia gunakan kini menghilang dari pasar.

“Rata-rata minyak goreng naik harga, Minyakita sudah tidak ada lagi,” ujarnya.

Menurutnya, situasi ini membuat biaya produksi meningkat signifikan. Ia terpaksa membeli minyak goreng dengan harga lebih tinggi, yang secara langsung memangkas keuntungan.

“Kalau terus begini, keuntungan makin tipis. Mau tidak mau harus pintar menyiasati, karena harga jual makanan juga tidak bisa langsung dinaikkan,” tambahnya.

Keluhan serupa disampaikan Asril, 34, salah satu pedagang di Rumah Makan Janjang Sembilan. Ia mengaku kesulitan mendapatkan Minyakita dalam beberapa waktu terakhir sehingga harus beralih ke minyak goreng merek lain yang lebih mahal.

Tingginya kebutuhan minyak goreng

“Sekarang susah cari Minyakita. Mau tidak mau pakai minyak lain yang lebih mahal, jadi biaya masak ikut naik,” ujarnya.

Ia menambahkan, tingginya kebutuhan minyak goreng setiap hari membuat kenaikan biaya semakin terasa.

“Kami harus pintar-pintar mengatur supaya usaha tetap jalan, tapi kalau harga terus naik, tentu berat juga,” katanya.

Minyakita sebelumnya menjadi andalan bagi pedagang kecil dan masyarakat berpenghasilan rendah karena harganya yang terjangkau. Kelangkaan produk ini dinilai semakin memberatkan pelaku usaha mikro yang sangat bergantung pada stabilitas harga bahan pokok.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Batam, Mardanis, membenarkan bahwa stok Minyakita di pasaran saat ini berkurang. Ia menjelaskan, hal tersebut terjadi karena adanya penyaluran oleh Perum Bulog untuk program ketahanan pangan.

“Sebagian besar kuota Minyakita saat ini dialokasikan untuk masyarakat kurang mampu melalui program tersebut,” jelasnya.

Ia menegaskan, ketiadaan Minyakita di pasaran bukan disebabkan oleh kenaikan harga, melainkan karena prioritas distribusi untuk kebutuhan program bantuan pangan.

Dia memastikan, setelah program penyaluran tersebut selesai, ketersediaan Minyakita akan kembali normal di pasaran. Ia juga menegaskan bahwa harga eceran tertinggi (HET) Minyakita tetap Rp14.700 per liter dan tidak mengalami kenaikan.

Selain itu, ia menjelaskan bahwa Minyakita memang diperuntukkan bagi masyarakat menengah ke bawah. Oleh karena itu, distribusinya dibatasi dan tidak diperbolehkan dijual di retail modern atau swalayan.

“Minyakita dijual di kedai kecil dan pasar tradisional, bukan di retail modern, karena memang diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu,” tegasnya.

Ia pun mengimbau masyarakat agar tidak panik menyikapi kondisi ini, karena pemerintah menjamin pasokan akan kembali stabil dalam waktu dekat.

Di sisi lain, Ketua Asosiasi Distributor Bahan Pokok Kota Batam, Ariyanto, menyebutkan bahwa kenaikan harga minyak goreng premium dipicu oleh meningkatnya biaya produksi di tingkat pabrik, termasuk harga bahan baku dan kemasan.

Meski kenaikan tersebut dinilai masih dalam batas wajar, kondisi di lapangan mulai menunjukkan tekanan akibat terbatasnya ketersediaan minyak goreng premium serta kosongnya stok Minyakita di sejumlah titik distribusi.

Posted in Batam and tagged , , .