Ketidakpastian Global Bayangi Harga Gula, Batam Berpotensi Alami Kenaikan

Nasional – Kondisi pasar gula global yang tengah bergejolak diperkirakan akan berdampak langsung terhadap harga gula di dalam negeri, termasuk di Kota Batam. Para analis menilai, meskipun sempat mengalami penurunan, harga gula dunia kini memasuki fase tidak stabil dan berpotensi kembali naik dalam waktu dekat.

Dalam beberapa bulan terakhir, harga gula global menunjukkan pergerakan yang fluktuatif. Di satu sisi, peningkatan produksi dari negara-negara produsen utama seperti Brasil, India, dan Thailand sempat mendorong harga turun secara signifikan. Namun di sisi lain, tekanan geopolitik serta kenaikan harga energi kembali mendorong harga naik.

Fenomena ini tidak lepas dari keterkaitan antara industri gula dan energi. Ketika harga minyak meningkat, sebagian produksi tebu dialihkan untuk pembuatan etanol sebagai bahan bakar alternatif. Kondisi ini mengurangi pasokan gula di pasar global dan memicu kenaikan harga.

Selain itu, proyeksi terbaru menunjukkan potensi defisit pasokan gula dunia pada periode 2026–2027. Penurunan produksi global serta meningkatnya kebutuhan energi diperkirakan akan mempersempit ketersediaan gula di pasar internasional.

Di Indonesia, dampak kondisi global tersebut tidak serta-merta diikuti oleh penurunan harga. Sebaliknya, harga gula di berbagai daerah justru cenderung meningkat akibat faktor distribusi, biaya logistik, serta ketergantungan pada pasokan luar negeri.

Ketergantungan tinggi terhadap pasokan

Khusus di Batam, yang merupakan wilayah kepulauan dengan ketergantungan tinggi terhadap pasokan dari luar daerah, tekanan harga diperkirakan akan lebih terasa. Saat ini, harga gula di Batam berada di kisaran Rp17.300 hingga Rp18.500 per kilogram dan berpotensi terus meningkat apabila tren global berlanjut.

Sejumlah warga mulai merasakan dampak kenaikan harga tersebut. Rika, 34, warga Batu Aji, mengaku kini harus lebih mengatur pengeluaran rumah tangga. “Biasanya beli gula dua kilo, sekarang satu kilo dulu. Dipakai lebih hemat,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Jamal, 41, warga Tiban, yang menyebut kenaikan harga cukup terasa bagi kebutuhan sehari-hari. “Kalau harga terus naik, kami terpaksa kurangi penggunaan, terutama untuk minuman manis,” katanya.

Sementara itu, dari sisi distribusi, pelaku usaha mengungkapkan bahwa tekanan harga tidak hanya berasal dari dalam negeri. Sanusi, salah satu distributor gula di Batam, mengatakan bahwa kenaikan harga dipengaruhi oleh kondisi global dan biaya logistik. “Pasokan masih ada, tapi biaya masuk dan distribusi yang naik membuat harga di tingkat eceran ikut terdorong,” jelasnya.

Dalam jangka pendek, harga gula di Batam diperkirakan akan tetap tinggi, sementara dalam jangka menengah berpotensi mengalami kenaikan lanjutan. Jika tidak ada intervensi kebijakan yang signifikan, harga gula bahkan dapat menembus kisaran Rp19.000 hingga Rp21.000 per kilogram.

Pemerintah pusat dan daerah diharapkan dapat mengambil langkah antisipatif, seperti penguatan distribusi dan stabilisasi pasokan, guna menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian pasar global. (mat/MI)

Posted in Nasional and tagged , .