Ekonomi – Cabai Rawit Mahal, Aktivitas Belanja di Pasar Batam Mulai Lesu. Harga cabai rawit di sejumlah pasar tradisional Kota Batam masih terpantau tinggi dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut membuat aktivitas belanja masyarakat mulai menurun karena harga cabai dinilai terlalu tinggi untuk kebutuhan harian.
Di tingkat pedagang, cabai rawit dijual dengan harga bervariasi, mulai dari Rp70 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram. Harga ini bergantung pada jenis, kualitas, serta pasokan yang tersedia di masing-masing pasar.
Tingginya harga cabai rawit cukup dirasakan oleh masyarakat, terutama ibu rumah tangga dan pelaku usaha makanan kecil. Cabai menjadi salah satu bahan dapur yang hampir setiap hari digunakan, sehingga kenaikan harga langsung berpengaruh terhadap pengeluaran harian.
Suryani,35, salah seorang pedagang cabai, mengatakan kenaikan harga sudah terjadi sejak beberapa pekan terakhir. Menurutnya, harga cabai dari pemasok lebih dulu naik sehingga pedagang harus menyesuaikan harga jual di pasar.
Dari pemasok harga sudah tinggi!
“Sekarang cabai rawit masih mahal. Dari pemasok juga sudah tinggi. Biasanya pembeli beli satu kilogram, sekarang banyak yang beli setengah atau seperempat kilogram saja,” katanya, Selasa (30/6) .
Ia menyebut, jumlah pembeli cabai masih ada, tetapi daya beli tidak seperti biasanya. Sebagian warga tetap membeli cabai karena kebutuhan dapur, namun jumlahnya lebih sedikit dibandingkan saat harga normal.
Pedagang lainnya, Rudi, 44, mengatakan pasokan cabai yang masuk ke Batam belum sepenuhnya stabil. Menurutnya, kondisi pasokan sangat memengaruhi harga jual di pasar tradisional.
“Kalau pasokan lancar, biasanya harga bisa turun. Tapi sekarang barang tidak sebanyak biasanya, jadi harga masih tinggi. Kami pedagang juga mengikuti harga modal,” katanya.
Dia menambahkan, pedagang sebenarnya berharap harga cabai segera turun agar penjualan kembali normal. Sebab, ketika harga terlalu tinggi, pembeli cenderung menahan belanja dan memilih membeli sesuai kebutuhan paling mendesak.
Kenaikan harga ini juga dirasakan pembeli. Sari, 22, salah seorang warga Batam, mengaku kini lebih berhati-hati saat berbelanja kebutuhan dapur. Ia memilih membeli cabai secukupnya agar pengeluaran harian tetap terkendali.
Cukup untuk masak saja
“Biasanya saya beli cabai agak banyak untuk stok di rumah. Sekarang beli sedikit saja, yang penting cukup untuk masak hari ini. Kalau harga masih mahal, harus hemat,” ujarnya.
Menurut dia, harga cabai yang tinggi membuat masyarakat harus mengatur ulang belanja dapur. Ia berharap pemerintah dapat memastikan pasokan tetap lancar agar harga kebutuhan pokok, termasuk cabai, tidak terus memberatkan warga.
Selain mengurangi jumlah pembelian, sebagian pembeli juga mulai mencari alternatif dengan mencampur penggunaan cabai rawit dan cabai merah. Cara ini dilakukan agar kebutuhan memasak tetap terpenuhi tanpa membuat pengeluaran terlalu besar.
Sementara itu, Plt Kepala Disperindag Kota Batam, Suhar, belum dapat dimintai keterangan. Saat dikonfirmasi, yang bersangkutan sedang tidak berada di tempat.
Pedagang dan pembeli berharap pasokan cabai ke Batam kembali lancar dalam waktu dekat. Jika pasokan membaik, harga cabai rawit di pasar tradisional diharapkan dapat kembali stabil dan aktivitas belanja masyarakat kembali normal. amat/MI
| No | Jenis Data | Harga Cabai Rawit di Batam | Keterangan | Sumber |
| — | ————————— | —————————: | ————————————————— | ———————– |
| 1 | Harga pasar tradisional | Rp75.000 sampai Rp90.000/kg | Cabai rawit merah di beberapa pasar Batam | |
| 2 | Harga tertinggi | Rp95.000/kg | Untuk cabai rawit kualitas premium di beberapa kios | |
| 3 | Pasar Penuin dan Mitra Raya | Rp80.000 sampai Rp100.000/kg | Terpantau pada awal April 2026 | |
| 4 | Data rata-rata pemerintah | Rp64.571/kg | Rata-rata harga cabai rawit Kota Batam | Inbok Disperindag Kepri |
| 5 | Harga awal tahun 2026 | Rp80.000 sampai Rp100.000/kg | Harga sempat tinggi akibat pasokan terbatas | Batampos |
