Kepri – Di tengah krisis bahan bakar pesawat (avtur) yang melanda sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara, pasokan avtur di wilayah Kepulauan Riau (Kepri) dipastikan tetap dalam kondisi aman.
Krisis yang terjadi di beberapa negara seperti Filipina dan Vietnam bahkan dilaporkan telah berdampak pada pengurangan sejumlah rute penerbangan. Namun, kondisi tersebut belum berpengaruh terhadap ketersediaan avtur di Indonesia, khususnya di Kepri.
Pertamina Patra Niaga memastikan bahwa pasokan avtur di wilayah tersebut hingga kini tetap lancar tanpa kendala. Sales Area Manager Pertamina Patra Niaga Kepri, Bagus Handoko, menyebutkan bahwa ketersediaan stok masih mencukupi untuk mendukung seluruh aktivitas penerbangan.
“Untuk Kepri, stok avtur masih aman. Tidak ada isu kekurangan,” katanya, Ketika dikomnfirmasi wartawan, Jumat (27/3).
Ia menjelaskan, Pertamina terus melakukan pemantauan terhadap ketersediaan stok secara berkala. Pengelolaan distribusi juga dilakukan secara fleksibel menyesuaikan dengan kebutuhan di lapangan, sehingga potensi kekurangan dapat diantisipasi sejak dini.
“Stok bergerak dinamis, tetapi sejauh ini tidak ada kondisi kritis. Kami pastikan suplai tetap terjaga sesuai kebutuhan,” ujarnya.
Dari sisi distribusi, penyaluran avtur di Kepri dinilai relatif stabil. Hal ini didukung oleh sistem distribusi yang terintegrasi, yakni penyaluran langsung dari Depot Kabil menuju Bandara Hang Nadim melalui jalur pipa. Skema ini dinilai lebih efisien dan minim hambatan dibandingkan distribusi melalui jalur darat atau laut.
Suplai tetap terjaga dan lebih andal
“Penyaluran dari Depot Kabil ke Hang Nadim melalui pipa, sehingga suplai tetap terjaga dan lebih andal,” jelasnya.
Sementara itu, dari sisi operator penerbangan, kondisi pasokan avtur di Kepri juga dinilai masih aman. Area Manager Lion Air Group wilayah Kepri, Amar Fernando, memastikan bahwa kebutuhan bahan bakar untuk operasional penerbangan sejauh ini masih terpenuhi dengan baik.
“Untuk operasional di Kepri masih aman, tidak ada kendala,” ujarnya.
Meskipun demikian, ia tidak menampik adanya potensi dampak lanjutan dari krisis avtur di kawasan ASEAN, terutama terhadap harga. Dinamika global, termasuk fluktuasi harga energi dan distribusi regional, dinilai dapat memengaruhi harga avtur di dalam negeri.
“Kenaikan harga bisa saja terjadi, tetapi tetap bergantung pada kebijakan pemerintah dan kondisi pasar global,” katanya.
Pengamat menilai, stabilnya pasokan avtur di Kepri menjadi faktor penting dalam menjaga konektivitas wilayah, mengingat daerah ini merupakan salah satu pintu gerbang transportasi udara di bagian barat Indonesia. Dengan tetap terjaganya pasokan, aktivitas penerbangan baik domestik maupun internasional diharapkan dapat terus berjalan normal tanpa gangguan berarti.
Di sisi lain, pemerintah dan Pertamina diharapkan terus memperkuat sistem distribusi dan cadangan energi guna mengantisipasi kemungkinan dampak krisis global yang lebih luas. Langkah antisipatif tersebut dinilai penting agar Indonesia tetap mampu menjaga ketahanan energi, khususnya di sektor transportasi udara.
Dengan kondisi saat ini, masyarakat dan pelaku industri penerbangan di Kepri diimbau tidak perlu khawatir, karena pasokan avtur masih dalam kondisi aman dan terkendali.

