Ekonomi – UKM Manufaktur Berbasis Impor di Batam Paling Terdampak Pelemahan Rupiah. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menekan pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di Batam, khususnya yang bergerak di sektor pengolahan dan pendukung manufaktur berbasis impor bahan baku.
Pada Jumat (5/6), kurs dolar AS tercatat berada di kisaran Rp18.030–Rp18.050, dengan kurs jual di sejumlah lembaga keuangan mencapai sekitar Rp18.130 per dolar AS. Kondisi ini langsung berdampak pada kenaikan biaya produksi di sejumlah sektor industri.
UKM di Batam yang bergantung pada bahan baku impor menyebutkan bahwa pelemahan rupiah membuat biaya produksi meningkat cukup signifikan. Sementara itu, kenaikan harga jual produk tidak mudah dilakukan karena ketatnya persaingan pasar.
“Kalau dolar naik, otomatis harga bahan baku ikut naik. Tapi kami tidak bisa langsung menaikkan harga jual karena pasar sangat kompetitif,” ujar Abdullah, 45, salah satu pelaku UKM pengolahan di Batam, Jumat (5/6).
Pelaku usaha lainnya juga mengeluhkan tekanan pada margin keuntungan akibat meningkatnya biaya impor dan operasional.
“Margin kami makin tipis. Biaya naik, tapi daya beli konsumen belum tentu ikut naik,” kata Hajuli, 52, pelaku UKM lainnya.
Mengandalkan bahan baku impor
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid, mengatakan pelaku usaha yang paling terdampak adalah mereka yang mengandalkan bahan baku impor namun menjual produknya di pasar domestik.
“Pelaku usaha yang bergantung pada impor bahan baku menghadapi kenaikan biaya yang cukup signifikan, sementara ruang untuk menaikkan harga sangat terbatas,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat tekanan terhadap arus kas UKM semakin besar, terutama di sektor manufaktur pendukung industri besar seperti elektronik, kemasan, dan suku cadang.
Di sisi lain, UKM yang berorientasi ekspor atau menggunakan bahan baku lokal relatif lebih diuntungkan oleh pelemahan rupiah karena pendapatan dalam dolar AS meningkat nilainya saat dikonversi ke rupiah.
Sejumlah pelaku usaha menilai kondisi ini menunjukkan ketergantungan industri Batam terhadap bahan baku impor masih cukup tinggi, sehingga rentan terhadap fluktuasi nilai tukar.
Pemerintah daerah bersama otoritas kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas (BP Batam) didorong untuk memperkuat program peningkatan kandungan lokal serta efisiensi rantai pasok agar dampak gejolak kurs dapat ditekan.
Pelemahan rupiah pada Juni 2026 menjadi perhatian serius pelaku usaha di Batam, mengingat sektor UKM merupakan salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di kawasan industri tersebut.

