Harga Beras di Batam Naik hingga 15 Persen, Distributor dan Pejabat Belum Beri Tanggapan

Batam – Harga kebutuhan pokok di Kota Batam masih menunjukkan tren kenaikan pasca perayaan Idulfitri 1447 Hijriah. Komoditas beras menjadi sorotan utama setelah mengalami kenaikan signifikan hingga sekitar 13 hingga 15 persen dalam beberapa bulan terakhir.

Berdasarkan pantauan wartawan kami, Selasa (7/4), mendapati di sejumlah pasar tradisional seperti Pasar Aviari, Pasar Botania, dan Pasar Mitra Raya, harga beras medium yang sebelumnya berada di kisaran Rp14.000 hingga Rp15.000 per kilogram, kini naik menjadi sekitar Rp16.000 hingga Rp17.000 per kilogram.

Kenaikan sekitar Rp2.000 per kilogram ini dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama kalangan rumah tangga dan pelaku usaha kecil.

Tidak hanya beras, beberapa komoditas lain juga mengalami kenaikan harga. Minyak goreng curah dijual di kisaran Rp20.000 hingga Rp22.000 per kilogram dan dilaporkan mulai sulit ditemukan di beberapa pedagang.

Gula pasir juga mengalami kenaikan dan kini berada di kisaran Rp20.000 per kilogram. Sementara itu, harga cabai mengalami fluktuasi dengan kecenderungan naik, tergantung pasokan harian.

Di sisi lain, beberapa bahan pokok masih relatif stabil. Harga bawang merah dan bawang putih masing-masing berada di kisaran Rp30.000 hingga Rp35.000 per kilogram, meskipun pedagang mengingatkan potensi kenaikan tetap ada jika pasokan terganggu.

Kenaikan Harga terjadi sejak awal tahun 2026

Sejumlah pedagang menyebutkan bahwa kenaikan harga ini sudah terjadi sejak awal tahun 2026 dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Salah satu pedagang beras di Pasar Mitra Raya mengatakan bahwa pasokan dari luar daerah menjadi faktor utama.

“Batam ini tergantung pasokan dari luar. Kalau distribusi terganggu atau harga dari daerah asal naik, otomatis di sini ikut naik,” ujarnya.

Kondisi ini membuat masyarakat harus memutar otak untuk mengatur pengeluaran. Rini, 34, ibu rumah tangga di Batu Aji, mengaku kini lebih selektif dalam berbelanja kebutuhan harian.

“Sekarang belanja harus lebih dihitung dengan cermat. Harga beras dan minyak goreng yang naik membuat dampaknya semakin terasa,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Syaiful, 41, pekerja swasta di Batam Center. Ia menilai kenaikan harga kebutuhan pokok semakin memberatkan karena tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan. “Gaji tetap, tapi harga-harga naik terus. Mau tidak mau harus mengurangi pengeluaran lain,” ujarnya.

Sementara itu, Lina (29), pedagang makanan kecil, mengaku kenaikan harga bahan baku berdampak langsung terhadap usahanya. Ia terpaksa menaikkan harga jual, namun hal itu justru membuat jumlah pembeli menurun.

“Kalau tidak dinaikkan, rugi. Tapi kalau dinaikkan, pembeli berkurang. Serba sulit,” tuturnya.

Pengamat ekonomi lokal menilai kenaikan harga ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya meningkatnya permintaan selama dan setelah Lebaran, distribusi logistik yang belum sepenuhnya stabil, serta kenaikan biaya transportasi dan bahan pendukung seperti kemasan.

Selain itu, ketergantungan Batam terhadap pasokan dari luar daerah membuat harga di wilayah ini lebih rentan terhadap gejolak.

Hingga berita ini diturunkan, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Batam, Wahyu Daryatin, belum dapat dihubungi untuk dimintai keterangan terkait langkah pemerintah dalam menstabilkan harga.

Selain itu, perwakilan dari PT Usaha Kiat Persada, salah satu distributor sembako di Batam, Ayin, juga belum dapat dihubungi saat dimintai konfirmasi terkait ketersediaan dan distribusi pasokan bahan pokok di pasaran.

Masyarakat berharap pemerintah bersama para distributor dapat segera mengambil langkah konkret agar harga kembali stabil dan pasokan tetap terjaga, terutama menjelang aktivitas ekonomi yang kembali normal setelah Lebaran.

Posted in Batam, Ekonomi and tagged , .