Dulu Wartawan, Kini Miliarder: Kisah Tirto Utomo Pendiri AQUA

Opini -Perjalanan hidup Tirto Utomo menjadi bukti bahwa perubahan nasib bisa datang dari keberanian mengambil keputusan besar. Siapa sangka, pria yang pernah berprofesi sebagai wartawan ini kelak dikenal sebagai pendiri AQUA, salah satu merek air minum dalam kemasan terbesar di Indonesia.

Tirto Utomo, yang memiliki nama asli Kwa Sien Biauw, lahir pada 9 Maret 1930 di Wonosobo. Ia menempuh pendidikan di HBS Semarang dan SMA St. Albertus Malang, sebelum melanjutkan kuliah di Universitas Gadjah Mada. Namun, ia kemudian pindah ke Fakultas Hukum Universitas Indonesia hingga akhirnya menyelesaikan pendidikannya.

Saat masih berstatus mahasiswa, Tirto sempat bekerja sebagai wartawan di harian Sin Po dan majalah Pantja Warna. Karier jurnalistiknya sempat menanjak hingga dipercaya menjadi pemimpin redaksi. Namun pada 1959, ia harus menerima kenyataan pahit ketika diberhentikan dari posisinya. Peristiwa tersebut menjadi titik balik dalam hidupnya.

Setelah menyelesaikan kuliah, Tirto bekerja di Permina yang kemudian berkembang menjadi Pertamina. Ia ditempatkan di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara. Di perusahaan inilah ia mengasah pengalaman dan wawasan bisnis sebelum akhirnya memutuskan pensiun dini di usia 48 tahun.

Mendirikan PT Golden Mississippi

Keputusan tersebut menjadi awal dari perjalanan bisnisnya. Pada 1973, Tirto mendirikan PT Golden Mississippi dan mulai merintis usaha air minum dalam kemasan di Bekasi, Jawa Barat. Dengan jumlah karyawan yang masih terbatas, ia membangun pabrik sederhana dan memanfaatkan sumber air dari sumur di sekitar lokasi.

Setahun kemudian, produk AQUA resmi diperkenalkan ke pasar dalam kemasan botol kaca berukuran 950 ml. Di masa itu, air minum dalam kemasan belum menjadi kebutuhan umum. Namun, momentum datang ketika banyak pekerja asing dari perusahaan Korea Selatan, Hyundai, yang mengerjakan proyek Tol Jagorawi mulai mengonsumsi produk tersebut.

Kebiasaan ini kemudian diikuti oleh pekerja lokal. Secara perlahan, penggunaan air minum dalam kemasan mulai meluas di masyarakat karena dinilai praktis dan higienis. Dari sinilah, AQUA berkembang pesat dan menjadi pelopor di industrinya.

Seiring meningkatnya permintaan, perusahaan terus melakukan ekspansi. Pada 1984, pabrik kedua didirikan di Pandaan, Jawa Timur. Setahun kemudian, diperkenalkan kemasan gelas plastik berukuran 220 ml untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Perkembangan besar terjadi pada 1998 ketika perusahaan multinasional asal Prancis, Danone, mengakuisisi mayoritas saham PT Aqua Golden Mississippi. Meski demikian, Tirto Utomo tetap memiliki keterlibatan melalui PT Tirta Investama.

Dalam perjalanannya, AQUA sempat menjadi perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali menjadi perusahaan tertutup pada 2011 melalui aksi pembelian kembali saham publik.

Kesuksesan Tirto Utomo tak lepas dari keberaniannya mengambil risiko dan melihat peluang di tengah perubahan zaman. Dari seorang wartawan, ia menjelma menjadi pengusaha besar yang meninggalkan warisan penting bagi industri air minum di Indonesia.

Tirto Utomo wafat pada 16 Maret 1994. Namun, jejak dan kontribusinya tetap hidup melalui AQUA yang hingga kini terus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Posted in Opini and tagged , .