Batam – Industri rokok elektrik (vape) di Batam tengah mengalami tekanan. Dalam beberapa bulan terakhir, penjualan dilaporkan turun hingga 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kondisi ini berdampak langsung pada omzet para pelaku usaha, khususnya di sektor ritel.
Owner 2 R Vape Store, Ario Bisma Aritonang, mengungkapkan bahwa penurunan tersebut cukup terasa dalam operasional bisnis sehari-hari. Ia menyebutkan, sebelumnya omzet tokonya mampu mencapai sekitar Rp350 juta per bulan, namun kini mengalami penurunan signifikan.
“Kalau dibandingkan tahun lalu, penjualan memang turun cukup jauh, sekitar 30 persen. Dulu omzet bisa sampai Rp350 juta per bulan, sekarang paling di kisaran Rp240 jutaan,” ujarnya, (25/3).
Menurut dia, penurunan ini tidak hanya terjadi di satu titik lokasi, melainkan hampir merata di seluruh wilayah Batam. Namun, dampak paling terasa berada di kawasan dengan aktivitas perdagangan tinggi seperti Nagoya dan Batam Center, yang selama ini menjadi pusat perputaran bisnis vape.
Maraknya pemberitaan terkait liquid vape ilegal
Ia menjelaskan, salah satu faktor utama yang memicu turunnya penjualan adalah menurunnya kepercayaan konsumen. Hal ini dipicu oleh maraknya pemberitaan terkait liquid vape ilegal yang mengandung zat berbahaya, sehingga membuat sebagian pengguna menjadi lebih waspada.
“Banyak pelanggan sekarang jadi lebih hati-hati. Mereka tanya lebih detail soal produk, bahkan ada yang memilih berhenti dulu. Isu keamanan ini memang cukup berpengaruh,” jelasnya.
Selain itu, pengetatan pengawasan terhadap peredaran vape ilegal juga memberikan dampak tidak langsung terhadap pelaku usaha resmi. Jalur distribusi yang sebelumnya lancar kini mengalami hambatan, sehingga ketersediaan produk di pasaran menjadi tidak stabil.
“Sekarang barang juga agak susah masuk. Kadang stok kosong untuk beberapa varian, jadi pelanggan tidak selalu bisa dapat produk yang mereka cari. Itu juga berpengaruh ke penjualan,” tambahnya.
Di sisi lain, faktor daya beli masyarakat turut menjadi tantangan tersendiri. Menurut Aris, kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil membuat konsumen lebih selektif dalam membelanjakan uangnya, termasuk untuk produk vape yang dianggap bukan kebutuhan utama.
“Konsumen sekarang lebih pilih-pilih. Kalau dulu bisa beli rutin, sekarang ada yang mengurangi frekuensi pembelian,” katanya.
Meski demikian, dia menilai bahwa pasar vape di Batam masih memiliki potensi untuk kembali tumbuh. Ia optimistis, selama pelaku usaha dapat menjaga kualitas produk dan memastikan legalitas barang yang dijual, kepercayaan konsumen perlahan akan pulih.
Ia juga berharap pemerintah dapat memberikan regulasi yang jelas dan konsisten, sehingga pelaku usaha memiliki kepastian dalam menjalankan bisnisnya.
“Kami berharap ada aturan yang jelas dan pengawasan yang tepat sasaran. Kalau pasar bersih dari produk ilegal dan konsumen merasa aman, saya yakin penjualan bisa kembali naik,” ujarnya.
Untuk menghadapi kondisi saat ini, Aris mengaku mulai menerapkan sejumlah strategi, mulai dari memperketat seleksi produk, menjaga hubungan dengan pelanggan, hingga meningkatkan edukasi terkait penggunaan vape yang aman.
Penurunan penjualan vape di Batam ini menjadi sinyal bahwa industri tersebut tengah menghadapi tantangan serius, baik dari sisi regulasi, distribusi, maupun persepsi konsumen. Namun dengan langkah adaptasi yang tepat, para pelaku usaha berharap kondisi ini hanya bersifat sementara dan pasar dapat kembali pulih dalam waktu mendatang.

