KEPRI – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), meningkat di tengah kondisi kualitas udara yang tidak sehat bagi kelompok sensitif. Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama dalam melindungi anak-anak dan balita dari paparan polusi udara.
Berdasarkan data kasus mingguan tahun 2026, jumlah penderita ISPA di Tanjungpinang meningkat dari 217 kasus pada minggu ke-39 menjadi 334 kasus pada minggu ke-40. Dengan demikian, terjadi penambahan 117 kasus dalam kurun waktu satu pekan.
Peningkatan tersebut menjadi perhatian di tengah kondisi kualitas udara yang belum sehat. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Tanjungpinang tercatat mencapai 103 hingga pukul 14.30 WIB. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Kondisi ini perlu diwaspadai, terutama oleh anak-anak, balita, lansia, serta masyarakat yang rentan mengalami gangguan pernapasan. Paparan polusi udara dapat memperburuk kondisi kesehatan, sehingga upaya mengurangi paparan menjadi salah satu langkah pencegahan yang penting.
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Tanjungpinang, Rustam, mengimbau masyarakat agar lebih memperhatikan kondisi udara dan menerapkan langkah pencegahan untuk melindungi keluarga.
Ia secara khusus meminta para orang tua membatasi aktivitas anak di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara memburuk. Kegiatan bermain di luar rumah sebaiknya dikurangi atau dihentikan sementara sesuai kondisi udara dan arahan pemerintah setempat.
“Masyarakat diharapkan lebih memperhatikan kondisi udara dan menerapkan langkah pencegahan, terutama untuk melindungi balita dan anak-anak dari paparan polusi,” katanya, Jumat (16/10).
Menurut dia, apabila anak terpaksa beraktivitas di luar rumah saat udara berpolusi atau berasap, orang tua perlu memastikan anak menggunakan masker yang sesuai dengan ukuran wajah. Masker harus terpasang rapat dan menutupi hidung serta mulut agar dapat membantu mengurangi paparan partikel pencemar.
Selain melakukan pencegahan di luar rumah, masyarakat juga diminta menjaga kualitas udara di lingkungan tempat tinggal. Ketika udara di luar tercemar, pintu dan jendela dapat ditutup untuk mengurangi masuknya polusi ke dalam rumah.
Sumber pencemaran di sekitar tempat tinggal, seperti asap rokok dan pembakaran sampah secara terbuka, juga perlu dihindari. Kebiasaan tersebut dapat menambah paparan asap yang berpotensi mengganggu kesehatan saluran pernapasan.
Di samping itu, pemenuhan kebutuhan gizi dan cairan anak harus tetap diperhatikan. Orang tua perlu memastikan anak mengonsumsi makanan bergizi, minum air putih yang cukup, serta mendapatkan istirahat yang memadai.
Dia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan, khususnya pada anak-anak. Gejala seperti batuk berkepanjangan, demam tinggi, dan sesak napas perlu mendapat perhatian serius.
Jika anak mengalami gejala tersebut, orang tua diminta segera membawanya ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Peningkatan kasus ISPA di tengah kondisi udara yang tidak sehat menjadi pengingat bagi masyarakat Tanjungpinang untuk lebih memperhatikan kesehatan pernapasan. Pembatasan aktivitas saat polusi meningkat, pengurangan sumber asap di lingkungan rumah, serta pemantauan kondisi kesehatan diharapkan dapat membantu mengurangi risiko gangguan pernapasan, terutama pada kelompok rentan.
–
Masyarakat diimbau mewaspadai paparan polusi udara, terutama bagi anak-anak dan balita.
