Opini – The Butterfly Effect adalah sebuah istllah yang dipakai oleh Edward Norton Lorenz untuk menjelaskan tentang teori sebab akibat dari sebuah rangkaian peristiwa di Alam Semesta.
Dalam penelitiaannya, dia menjelaskan bahwa Kepakan sayap kupu-kupu secara teori menyebabkan perubahan-perubahan sangat kecil dalam atmosfer bumi yang akhirnya mengubah jalur angin ribut (tornado) atau menunda, mempercepat bahkan mencegah terjadinya tornado di tempat lain.
Kepakan sayap ini merujuk kepada perubahan kecil dari kondisi awal suatu sistem, yang mengakibatkan rantaian peristiwa menuju kepada perubahan skala besar (bandingkan dengan efek domino).
Dengan mempertimbangkan teori tersebut dan sekarang bukan hanya terjadi angin tornado ataupun puting beliung di suatu tempat, melainkan sebuah perubahan cuaca ekstrim pada suatu daerah.
Dimana perubahan cuaca itu bukan sekadar mengenai perubahan angin di atmosfer, melainkan merubah iklim yang tidak seharusnya.
Dilansir dalam dw.com, Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa sejak pertengahan Juni telah menelan korban jiwa dalam jumlah besar.
Organisasi Kesehatan Dunia
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lebih dari 1.300 kematian berlebih terjadi sejak 21 Juni, bertepatan dengan dimulainya periode suhu tinggi yang memecahkan rekor di berbagai wilayah.
Jerman kembali mencatat rekor suhu hingga 41,7 derajat Celsius pada hari Minggu (28/06), menandai hari ketiga berturut-turut terjadinya suhu tertinggi baru, menurut Dinas Cuaca Jerman (DWD). Rekor tersebut tercatat di permukiman pedesaan Coschen, Brandenburg, dengan pengukuran yang masih bersifat sementara dan menunggu verifikasi resmi.
Dalam beberapa hari terakhir, pusat suhu ekstrem bergeser ke wilayah timur, meliputi Brandenburg dan Sachsen. Sebelumnya, suhu 41,5 derajat Celsius tercatat di Drewitz, Sachsen-Anhalt, pada hari Sabtu (27/06), dan angka yang sama kembali terjadi di Bad Muskau, Sachsen, di perbatasan Polandia pada hari Minggu (28/06).
Gelombang rekor ini bermula dari suhu 41,3 derajat Celsius yang tercatat di Saarbrücken pada hari Jumat (26/06).
Sementara itu, Polandia dan Republik Ceko juga mencatat suhu di atas 40 derajat Celsius pada hari Minggu (28/06).
Suhu 41,9 derajat Celsius
Di Republik Ceko, desa Doksany, sekitar 50 kilometer di utara Praha mencapai suhu 41,9 derajat Celsius, menurut Institut Meteorologi Ceko (CHMI).
Bila dalam teori butterfly Effect menyebutkan adanya keterkaitan antara sebuah peristiwa dengan rentetan kejadian lainnya di muka bumi, maka dengan berubahnya iklim/cuaca yang ekstrim di dataran eropa bukan suatu hal yang tidak mungkin adalah sebab dari kejadian di belahan bumi yang lain.
Tidak bisa dipungkiri dalam beberapa decade issue tentang pemanasan global sangat santer terdengar dimana-mana. Seruan tentang menjaga lingkungan dan alam semakin massif guna menghindari akibat yang buruk dari kerusakan alam, mungkin yang terjadi saat ini di belahan dunia seperti di eropa merupakan akibat dari masifnya eksplorasi perusakan Alam yang terjadi di daerah-daerah lain atau bisa juga di dataran eropa tiu sendiri.
Jadi, tidak ada salahnya untuk menjaga Alam semesta, bila itu pun sulit minimal dengan hal paling kecil untuk tidak merusaknya. Karena bisa saja sebuah kejadian yang menimpa di suatu tempat tanpa di sadari merupakan kesalahan tidak langsung dari sebuah peristiwa yang tak terduga.
