Nasional – Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI resmi mengoperasikan Pusat Komando dan Pengendalian (Puskodal) terpadu di Markas Komando (Mako) Zona Maritim Barat, Batam, Kepulauan Riau. Fasilitas ini menjadi tonggak baru integrasi sistem keamanan laut nasional dengan menghubungkan data dari 17 kementerian dan lembaga dalam satu command center.
Kepala Bakamla RI, Laksamana Madya Irvansyah, mengatakan kehadiran pusat komando ini akan memangkas hambatan koordinasi antarinstansi yang selama ini kerap memperlambat respons terhadap insiden di laut.
“Seluruh data dan informasi kini terintegrasi dalam satu sistem. Tidak boleh ada lagi sekat antarinstansi. Semua informasi intelijen maritim harus dibagikan,” katanya, kepada wartawan, Kamis (23/4).
Puskodal ini dirancang sebagai National Command Center yang mampu memantau aktivitas perairan secara real-time, khususnya di wilayah strategis seperti Selat Malaka. Dengan sistem terpadu, Bakamla dapat mempercepat pengambilan keputusan dalam menghadapi ancaman seperti illegal fishing, penyelundupan, hingga pelanggaran wilayah.
Peresmian fasilitas ini dilakukan bersamaan dengan Mako Zona Maritim Tengah di Manado dan Zona Maritim Timur di Ambon secara daring. Pembangunan ketiga zona tersebut menelan anggaran Rp533 miliar yang bersumber dari Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).
Pangkas Ego Sektoral
Selama ini, pengawasan laut Indonesia melibatkan banyak institusi dengan sistem data yang terpisah. Kondisi tersebut sering menimbulkan tumpang tindih kewenangan dan keterlambatan respons di lapangan.
Melalui command center terpadu ini, Bakamla mendorong perubahan pola kerja menjadi lebih kolaboratif. Setiap hari, seluruh instansi terkait melakukan daily brief untuk berbagi informasi dan menyusun langkah bersama.
“Keamanan laut tidak bisa ditangani sendiri. Kuncinya adalah kolaborasi dan keterbukaan data,” ujarnya.
Dukung Stabilitas Ekonomi
Wakil Gubernur Kepulauan Riau, Nyanyang Haris Pratamura, menilai integrasi sistem ini akan berdampak langsung pada stabilitas kawasan. Dengan 98 persen wilayah Kepri berupa lautan dan berbatasan dengan sejumlah negara, keamanan menjadi faktor utama dalam menjaga arus logistik internasional.
“Selat Malaka adalah jalur vital perdagangan dunia. Dengan sistem pengawasan yang terintegrasi, aktivitas ekonomi dapat berjalan lebih aman dan lancar,” ujarnya.
Ia menambahkan, stabilitas keamanan laut turut berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau yang mencapai 6,94 persen pada 2025, tertinggi di Sumatra.
Dengan beroperasinya command center ini, Bakamla optimistis mampu meningkatkan kecepatan dan ketepatan respons terhadap berbagai potensi ancaman di laut, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam menjaga kedaulatan di wilayah perairan strategis.

