Ekonomi – Nilai tukar dolar Singapura (SGD) terus menunjukkan penguatan signifikan terhadap rupiah pada Jumat pagi (24/4), memicu lonjakan aktivitas penukaran valuta asing di Batam.
Berdasarkan data Bank Indonesia per pukul 09.00 WIB, kurs beli SGD tercatat sebesar Rp13.497,00, sementara kurs jual mencapai Rp13.637,43. Angka ini naik 65,46 poin atau sekitar 0,48 persen dibandingkan posisi Kamis (23/4) yang berada di level Rp13.571,97.
Tidak hanya itu, tekanan terhadap rupiah juga tercermin dari nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) yang menyentuh Rp17.394,54 pada hari yang sama, memperlihatkan pelemahan mata uang domestik secara luas.
Masyarakat Batam cenderung beralih ke jasa penukaran non-bank.
Di sisi lain, perbankan nasional seperti BCA menetapkan kurs TT Counter jual SGD di kisaran Rp13.674,00, lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga di money changer. Selisih atau spread yang lebih kompetitif membuat masyarakat Batam cenderung beralih ke jasa penukaran non-bank.
Aktivitas di lapangan pun menguat. Sejumlah kawasan seperti Nagoya dan Sagulung mencatat peningkatan volume transaksi penukaran sejak awal pekan. Permintaan didominasi oleh kebutuhan perjalanan ke Singapura serta transaksi lintas batas.
Pedagang valuta asing di kawasan Nagoya, Aming Tan , 45, mengungkapkan permintaan SGD meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir.
“Sejak awal minggu sudah naik, tapi hari ini lebih ramai. Banyak yang beli karena mau ke Singapura dan khawatir kurs naik lagi,” katanya, Jumar (24/4).
Ia menyebutkan, lonjakan permintaan bahkan membuat stok dolar Singapura di beberapa money changer sempat terbatas.
“Kalau pagi seperti ini biasanya cepat habis. Harga juga bisa langsung ikut naik,” tambahnya.
Sementara itu, ekonom lokal Jontro Simanjuntak dari Institut Indobaru Nasional (IIBN) menilai penguatan SGD dipengaruhi kombinasi faktor domestik dan global. Selain tingginya mobilitas masyarakat Batam, tekanan eksternal turut memainkan peran penting.
“Ketidakpastian geopolitik global dan arah suku bunga internasional membuat investor cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia,” jelasnya.
Menurut Jontro, kondisi ini berpotensi menahan rupiah di bawah tekanan dalam jangka pendek. Jika tren berlanjut, nilai tukar SGD diperkirakan tetap berada di level tinggi atau bahkan meningkat.
Dengan kombinasi kenaikan permintaan lokal dan sentimen global, pasar valuta asing di Batam diprediksi masih akan bergerak dinamis dalam beberapa hari ke depan.

