Batam – Di tengah tekanan ekonomi global dan penataan ulang rantai pasok internasional, realisasi investasi di Kota Batam sepanjang 2025 mencapai Rp69,30 triliun. Capaian tersebut melampaui target tahunan sebesar Rp60 triliun atau sekitar 15 persen di atas sasaran.
Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, mengatakan capaian tersebut mencerminkan ketahanan sekaligus penguatan fundamental ekonomi kawasan. Menurutnya, pertumbuhan investasi Batam tidak hanya ditopang oleh bertambahnya jumlah proyek, tetapi juga oleh ekspansi dan pendalaman kapasitas pelaku usaha yang telah beroperasi.
“Yang tercermin adalah uang yang benar-benar bekerja di lapangan, bukan sekadar rencana di atas kertas,” katanya, Rabu (21/1).
Ia menjelaskan, percepatan realisasi investasi pada paruh kedua 2025 menunjukkan meningkatnya belanja modal industri. Kondisi ini menandai Batam memasuki fase capital deepening yang berperan langsung dalam meningkatkan produktivitas serta daya saing kawasan industri.
Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Candra, menambahkan bahwa dari sisi struktur, komposisi investasi Batam semakin matang, baik berdasarkan asal negara penanam modal maupun sektor usaha.
Sepanjang 2025, Singapura masih menjadi sumber investasi terbesar di Batam, disusul Taiwan, Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Malaysia, Hong Kong (RRT), Belanda, Amerika Serikat, Jepang, Swiss, dan Prancis. Menurut Li Claudia, komposisi tersebut mencerminkan keterhubungan Batam dengan jaringan manufaktur dan logistik regional.
“Struktur investasi ini menunjukkan Batam semakin terintegrasi dalam rantai pasok regional dan global,” ujarnya.
Penguatan investasi juga ditopang oleh lonjakan penanaman modal dalam negeri (PMDN). Anggota/Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis, menyampaikan bahwa berdasarkan laporan investasi nasional, realisasi investasi Batam mencapai Rp44,01 triliun atau 118,97 persen dari target Rp36,99 triliun.
Secara year-on-year, PMDN meningkat 125,90 persen dari Rp8,16 triliun pada 2024 menjadi Rp18,43 triliun pada 2025. Sementara itu, penanaman modal asing (PMA) juga mengalami peningkatan menjadi Rp25,58 triliun.
“Lonjakan PMDN menunjukkan meningkatnya kepercayaan investor domestik serta kuatnya reinvestasi pelaku usaha nasional di tengah volatilitas global,” ujar Fary.
BP Batam menjelaskan bahwa realisasi investasi tersebut mencerminkan aktivitas ekonomi yang benar-benar berlangsung di lapangan. Penghitungan dilakukan berdasarkan pembentukan aset produktif, seperti mesin, peralatan industri, dan fasilitas produksi yang digunakan langsung dalam kegiatan usaha.
Dengan realisasi investasi yang meningkat dari Rp54,7 triliun pada posisi triwulan III 2025 menjadi Rp69,30 triliun di akhir tahun, Batam dinilai mampu mempertahankan momentum pertumbuhan investasi sekaligus memperkuat struktur industri kawasan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

