Warga Batam Cenderung Berdagang: Perguruan Tinggi Tak Berdampak Langsung pada Masyarakat Lokal

Batam, yang dikenal sebagai kawasan industri terbesar di Indonesia, menghadapi kenyataan bahwa sebagian besar warganya lebih memilih untuk terlibat dalam dunia perdagangan daripada melanjutkan pendidikan tinggi. Hal ini dikemukakan oleh Mustaqim, Rektor Institut Teknologi dan Sains Meranti serta STISIP Bunda Tanah Melayu, yang mengakui bahwa dampak perguruan tinggi di Batam terhadap kehidupan masyarakat lokal masih terbatas.

Menurut Mustaqim, meskipun Batam memiliki banyak perguruan tinggi, peran perguruan tinggi tidak sebanding dengan pengaruh sektor industri dan perdagangan terhadap kehidupan sehari-hari warga Batam. “Sebagian besar mahasiswa di perguruan tinggi Batam merupakan pekerja industri yang kuliah sambil bekerja, dan ini membuat kampus lebih berfungsi sebagai pendukung karir mereka daripada sebagai pusat kegiatan komunitas yang memberi dampak langsung pada masyarakat lokal,” ujarnya kepada Media Indonesia.

Mengapa Berdagang Menjadi Pilihan Utama?

Sektor perdagangan memang menjadi pilihan utama bagi mayoritas warga Batam. Berdasarkan penelitian yang ada, lebih dari 60% penduduk Batam terlibat dalam kegiatan perdagangan. Batam yang terletak dekat dengan Singapura dan Malaysia memiliki akses ke pasar internasional yang memudahkan sektor perdagangan berkembang pesat. Warga Batam lebih memilih untuk berdagang baik di pasar tradisional maupun dengan memanfaatkan platform digital yang berkembang pesat. Dengan status Batam sebagai kawasan perdagangan bebas (FTZ), peluang bagi pelaku usaha di sektor ini semakin terbuka lebar.

Bagi sebagian besar warga Batam, berdagang bukan hanya pilihan hidup, tetapi juga jalan cepat untuk memperoleh penghidupan yang lebih baik. Bagi mereka, pendidikan tinggi yang membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit, tidak selalu dianggap sebagai jalan yang langsung memberikan manfaat.

Tantangan Pendidikan Tinggi di Batam

Dia juga menyoroti rendahnya tingkat kelulusan perguruan tinggi di Batam yang tercatat hanya 6,93% per Juni 2024, dengan rincian 4,6% lulus S1 dan 1,79% lulus D3. Hal ini memperlihatkan bahwa meskipun Batam merupakan pusat industri, pendidikan tinggi belum menjadi prioritas utama bagi masyarakat lokal. “Banyak warga Batam yang memilih untuk terjun langsung ke dunia kerja karena sektor industri dan perdagangan menawarkan peluang yang lebih cepat dan nyata,” tambah Mustaqim.

Budaya “kuliah sambil bekerja” memang menjadi fenomena umum di kalangan mahasiswa Batam. Sebagian besar mahasiswa, yang bekerja di pabrik atau bisnis, memilih untuk kuliah di malam hari. Namun, banyak dari mereka yang hanya datang ke kampus untuk memenuhi syarat administratif demi mendapatkan gelar pendidikan. Perguruan tinggi di Batam lebih berfungsi sebagai pendukung karir daripada sebagai tempat pembentukan komunitas mahasiswa yang aktif. Oleh karena itu, pengaruh perguruan tinggi terhadap kehidupan sosial masyarakat Batam menjadi terbatas.

Pendidikan Tinggi Tidak Terjangkau bagi Warga Hinterland

Selain itu, akses terhadap pendidikan tinggi juga terbatas bagi warga Batam yang tinggal di daerah hinterland. Kebanyakan perguruan tinggi di Batam terletak di pusat kota, sementara sebagian besar penduduk hinterland kesulitan untuk menjangkau fasilitas pendidikan yang ada. Hal ini menyebabkan ketimpangan dalam kesempatan pendidikan bagi warga Batam, dengan banyak dari mereka yang lebih memilih untuk bekerja di sektor manufaktur atau perdagangan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Hazriyanto, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Batam mengungkapkan bahwa meskipun ada berbagai upaya dari perguruan tinggi untuk meningkatkan akses pendidikan, tetapi banyak warga yang merasa bahwa pendidikan tinggi tidak memberikan manfaat langsung bagi mereka. Mereka lebih memilih untuk berkarir di sektor yang lebih praktis dan langsung memberikan penghasilan, daripada melanjutkan pendidikan yang dianggap memakan waktu dan biaya.

Fokus Ekonomi Batam yang Berorientasi pada Industri dan Perdagangan

Sebagai kawasan industri padat modal memang mengutamakan tenaga kerja dengan latar belakang pendidikan SMA/SMK untuk mengisi sektor manufaktur dan kawasan perdagangan bebas (FTZ). Sektor industri ini menjadi pendorong utama perekonomian Batam, menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah besar, dan memberikan peluang kerja yang cepat. Sementara itu, sektor pendidikan tinggi masih belum cukup memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat lokal.

Menurut Hazriyanto, untuk meningkatkan kontribusi pendidikan tinggi, perguruan tinggi di Batam perlu beradaptasi dengan kebutuhan pasar lokal. “Pendidikan yang lebih berfokus pada kewirausahaan, keterampilan praktis, dan pengembangan usaha kecil dapat menjadi solusi agar perguruan tinggi dapat lebih memberikan dampak positif terhadap kehidupan warga lokal,” tambahnya.

Meskipun Batam memiliki banyak perguruan tinggi, sektor perdagangan dan industri tetap menjadi pilihan utama bagi mayoritas warganya. Berdagang memberikan kesempatan yang lebih cepat dan praktis untuk memperoleh penghidupan, sementara pendidikan tinggi masih dirasa belum memberikan manfaat langsung yang signifikan, terutama bagi mereka yang terlibat di sektor manufaktur dan perdagangan.

Dengan demikian, penting untuk menciptakan keterkaitan yang lebih erat antara sektor pendidikan dan sektor perdagangan di Batam. Perguruan tinggi perlu menyesuaikan kurikulum dan program pendidikan mereka dengan kebutuhan pasar lokal, seperti pelatihan kewirausahaan dan pengembangan usaha kecil. Hal ini akan memberikan dampak yang lebih besar dan relevansi yang lebih tinggi bagi masyarakat Batam.

Seiring dengan berkembangnya ekonomi digital dan perdagangan online, peluang untuk memperkuat peran pendidikan tinggi dalam mendukung perkembangan sektor perdagangan semakin terbuka. Sebuah kolaborasi antara sektor pendidikan dan sektor perdagangan akan menjadi langkah penting untuk menciptakan perubahan yang lebih besar bagi Batam di masa depan.

Posted in Batam, Ekonomi and tagged , .

Orang Biasa - Journalists Association Member – Riau Islands Province · Senior Lecturer · Senior Correspondent.