Opini; Hendri Kremer
Pengamat Batam
Ada masa ketika Batam terasa seperti jendela kecil Indonesia ke dunia. Tahun 1980-an, saat banyak daerah bahkan belum akrab dengan minuman ringan impor, warga Batam sudah mengenal Coca-Cola dan Seven Up. Bukan karena Batam lebih kaya, melainkan karena Batam lebih dulu terbuka. Kapal-kapal datang, orang-orang pergi dan datang, dunia terasa dekat—bahkan ketika akses ke daerah lain masih jauh.
Batam sudah melangkah lebih cepat, dua puluh tahun lebih awal. Namun kemajuan itu tidak selalu berjalan seiring dengan kesiapan. Investasi asing mengalir, pendatang berdatangan, industri tumbuh. Di balik geliat itu, ada sisi yang tertinggal: pendidikan yang sulit dijangkau, fasilitas yang terbatas, dan kesempatan yang tidak selalu merata. Banyak yang bertanya dalam hati, seandainya pada masa itu pendidikan menjadi prioritas utama, mungkin Batam hari ini telah berdiri jauh lebih tinggi.
Namun sejarah tidak bisa diulang. Ia hanya bisa dibaca, dipahami, lalu dijadikan pijakan.
Kini, Batam seperti sedang menutup lingkarannya sendiri.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan perlambatan di berbagai daerah, Batam kembali bergerak dengan irama yang berbeda. Sepanjang triwulan I hingga triwulan III tahun 2025, investasi yang masuk mencapai Rp33,66 triliun—91 persen dari target tahunan. Angka itu melonjak hampir 75 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Tapi yang paling terasa bukan besarnya angka, melainkan dampaknya.
Dalam tiga bulan, dari Juli hingga September 2025, sebanyak 51.939 orang kembali menemukan tempat berpijak. Pintu-pintu pabrik terbuka, mesin-mesin kembali bernyanyi, dan kawasan industri kembali bernapas. Investasi berubah menjadi pekerjaan, dan pekerjaan menjadi harapan.
Arus modal datang dari dua arah sekaligus: dalam negeri dan luar negeri. PMDN dan PMA masing-masing menyumbang Rp15,03 triliun, tumbuh lebih dari 150 persen. Ini bukan sekadar soal uang, tetapi soal kepercayaan—bahwa Batam kembali dipandang sebagai tempat yang layak dituju.
Sektor jasa memimpin, disusul energi, industri mesin dan elektronik, perumahan, kawasan industri, hingga perdagangan. Ekonomi Batam tidak lagi bertumpu pada satu kaki. Ia belajar berdiri dengan keseimbangan.
Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menyebut capaian ini sebagai hasil perjalanan panjang. Menurutnya, kepercayaan investor dibangun dari konsistensi—dari kebijakan yang tidak berubah-ubah, dari pelayanan yang makin sederhana, dan dari keberanian untuk berbenah.
“Kepercayaan pelaku usaha terhadap Batam semakin kokoh. Ini adalah hasil kerja kolektif pemerintah, BP Batam, dan dunia usaha,” ujarnya.
Pembangunan infrastruktur, digitalisasi perizinan, dan penataan kawasan industri kini diarahkan agar sejarah lama tidak terulang. Investasi tidak lagi boleh tumbuh tanpa akar. Ia harus menyentuh pendidikan, keterampilan, dan kualitas hidup.
Batam hari ini bukan sekadar kota industri. Ia adalah kota yang sedang belajar dari masa lalunya sendiri. Dari sebuah pulau yang lebih dulu mencicipi globalisasi, lalu menyadari harganya, dan kini mencoba menata ulang maknanya.
Ketika daerah lain masih menunggu angin perubahan, Batam memilih berlayar. Dengan investasi yang membuka lapangan kerja, dengan akses yang kini terbuka ke mana-mana, dan dengan tekad agar kemajuan kali ini tidak hanya cepat, tetapi juga adil.
Batam tidak sedang mengejar masa lalu. Ia sedang menebusnya.*

