Harga Cabai dan Daging Picu Kenaikan Sembako di Batam

Batam – Kenaikan harga cabai dan daging menjadi faktor utama yang mendorong naiknya harga sejumlah kebutuhan pokok di Kota Batam dalam beberapa pekan terakhir, saat permintaan masyarakat terhadap bahan pangan meningkat.

Berdasarkan pantauan pantauan Media Indonesia, Jumat (27/3) di sejumlah pasar tradisional, harga cabai merah saat ini berada di kisaran Rp70.000 hingga Rp80.000 per kilogram. Sementara cabai rawit dijual sekitar Rp60.000 per kilogram. Tingginya harga cabai disebut dipengaruhi oleh faktor cuaca yang berdampak pada pasokan serta distribusi dari daerah penghasil.

Selain cabai, harga daging sapi juga masih tergolong tinggi. Daging sapi beku impor dijual di kisaran Rp130.000 per kilogram. Kenaikan harga ini turut memberikan dampak pada daya beli masyarakat, terutama menjelang hari besar keagamaan.

Di sisi lain, beberapa komoditas utama lainnya terpantau relatif stabil. Harga beras SPHP masih berada di kisaran Rp12.500 per kilogram, sedangkan beras premium dijual antara Rp16.000 hingga Rp17.000 per kilogram. Minyak goreng subsidi juga stabil di harga sekitar Rp15.700 per liter.

Untuk komoditas lain seperti gula pasir, harga masih berada di kisaran Rp17.000 hingga Rp18.000 per kilogram. Bawang merah dan bawang putih masing-masing dijual sekitar Rp32.000 dan Rp38.000 per kilogram. Sementara itu, harga ayam segar berkisar Rp45.000 per kilogram dan telur ayam berada di kisaran Rp25.000 hingga Rp30.000 per rak.

Kenaikan harga cabai dan daging

Sejumlah pedagang mengungkapkan bahwa kenaikan harga cabai dan daging berdampak langsung pada pengeluaran rumah tangga, karena kedua komoditas tersebut menjadi kebutuhan penting sehari-hari.

Salah seorang warga Batam, Nugroho (34), mengaku harus mengurangi pembelian cabai akibat harga yang terus naik. “Biasanya beli setengah kilo, sekarang paling cuma seperempat. Harganya tinggi sekali, jadi harus dihemat,” ujarnya saat ditemui di pasar.

Hal serupa disampaikan Marni (41), yang menyebut harga daging kini semakin sulit dijangkau. Ia mengaku mulai beralih ke sumber protein lain seperti ayam atau telur. “Kalau daging sekarang jarang beli. Sehari-hari lebih pilih ayam karena lebih murah,” katanya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kenaikan harga tidak hanya dirasakan di tingkat pedagang, tetapi juga langsung berdampak pada pola konsumsi masyarakat. Sejumlah konsumen bahkan mulai menyesuaikan menu harian mereka agar tetap sesuai dengan anggaran belanja.

Pemerintah daerah menyatakan bahwa stok bahan pokok di Batam masih dalam kondisi aman. Berbagai upaya pengendalian harga terus dilakukan, termasuk melalui operasi pasar dan penyelenggaraan pasar murah guna menjaga stabilitas harga dan membantu masyarakat.

Posted in Batam and tagged , .