Batam – Pelaksanaan Pesantren Ramadan 1447 Hijriah selama tiga hari yang digelar 23–25 Februari 2026 mendapat sambutan positif dari para orang tua siswa di Kota Batam.
Program yang ditetapkan oleh Dinas Pendidikan Kota Batam itu dinilai mampu memperkuat nilai keagamaan sekaligus membentuk karakter anak sejak dini.
Sejumlah wali murid menyebut kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi anak-anak untuk lebih memahami makna Ramadan, tidak hanya sebatas menahan lapar dan dahaga, tetapi juga meningkatkan ibadah dan akhlak.
Rina (38), orang tua siswa sekolah dasar di Batam Center, mengaku mendukung penuh kegiatan tersebut. Menurutnya, pembelajaran agama secara intensif di sekolah selama Ramadan akan membantu anak lebih disiplin dalam beribadah.
“Kalau di rumah kadang anak masih terdistraksi gadget. Dengan adanya Pesantren Ramadan di sekolah, mereka bisa lebih fokus belajar mengaji, mendengarkan ceramah, dan praktik ibadah bersama teman-temannya,” ujarnya, Minggu (22/2).
Hal senada disampaikan Ahmad (41), wali murid tingkat SMP. Ia menilai durasi tiga hari sudah cukup efektif tanpa mengganggu jadwal akademik secara keseluruhan.
“Bagus karena tidak terlalu lama, tapi cukup untuk memberi penguatan karakter. Setelah itu anak-anak tetap bisa melanjutkan pelajaran seperti biasa,” katanya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Hendri Arulan, menyampaikan bahwa seluruh satuan pendidikan jenjang PAUD, SD, SMP, SKB, dan PKBM diminta mempersiapkan pelaksanaan kegiatan secara matang.
Pesantren Ramadan dilaksanakan secara tatap muka di masing-masing sekolah dengan beragam aktivitas keagamaan seperti tadarus Al-Qur’an, ceramah, pembinaan akhlak, serta kegiatan edukatif lainnya.
Dia mengapresiasi dukungan para orang tua terhadap pelaksanaan Pesantren Ramadan di seluruh satuan pendidikan di Batam. Menurutnya, keterlibatan dan dukungan keluarga menjadi kunci keberhasilan program pembinaan karakter selama bulan suci.
“Kami sangat mengapresiasi respons positif dari orang tua. Pendidikan karakter tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah, tetapi perlu sinergi dengan keluarga.
Pesantren Ramadan ini menjadi ruang kolaborasi untuk menanamkan nilai spiritual dan akhlak mulia kepada anak-anak,” ujarnya.
Ia menegaskan, meski kegiatan berlangsung selama tiga hari, substansi pembinaan yang diberikan diharapkan berdampak jangka panjang.
“Yang terpenting bukan soal lamanya kegiatan, tetapi kualitas materi dan pembiasaan yang ditanamkan. Kami mendorong sekolah mengemas kegiatan secara kreatif, interaktif, dan tetap memperhatikan kenyamanan siswa selama berpuasa,” tambahnya.
Menurutnya, sekolah diberi keleluasaan menyusun konsep kegiatan selama tetap berorientasi pada pembentukan karakter dan penguatan nilai spiritual siswa.
Usai pelaksanaan Pesantren Ramadan, kegiatan belajar mengajar akan kembali berlangsung mulai 26 Februari hingga 14 Maret 2026 dengan jadwal yang telah disesuaikan selama bulan Ramadan.
Para orang tua berharap kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda tahunan, tetapi benar-benar memberikan dampak positif bagi perkembangan moral dan spiritual anak.

