Harga Cabai di Batam Lebih Tinggi Dibanding Kota Sekitar

Batam – Sehari menjelang Ramadan, harga cabai di Batam terpantau lebih tinggi dibandingkan sejumlah kota sekitar di wilayah Kepulauan Riau maupun beberapa daerah di Sumatra yang lebih dekat dengan sentra produksi.

Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya kebutuhan bahan pokok masyarakat untuk persiapan sahur dan berbuka puasa.

Pantauan Media Indoesia, Rabu (18/2) pagi di lima pasar tradisional utama yakni Pasar Penuin, Pasar Tos 3000, Pasar Aviari, Pasar Tiban Center, dan Nagoya Baru Traditional Market menunjukkan harga cabai rawit menembus Rp85.000 per kilogram, sementara cabai merah berada di kisaran Rp75.000 hingga Rp80.000 per kilogram.

Sejumlah pedagang menyebut harga tersebut lebih tinggi dibandingkan beberapa kota lain yang lebih dekat dengan daerah penghasil cabai. Batam yang bukan wilayah pertanian bergantung pada pasokan dari luar pulau melalui jalur laut.

Biaya logistik, distribusi, serta potensi keterlambatan pengiriman menjadi faktor utama yang memengaruhi harga di tingkat pasar.

Selain cabai, harga komoditas lain juga mengalami kenaikan. Bawang merah dijual sekitar Rp38.000 per kilogram, bawang putih sekitar Rp40.000 per kilogram, dan ayam potong segar berada di kisaran Rp44.000 hingga Rp45.000 per kilogram.

Kenaikan ini dinilai sebagai pola musiman yang hampir selalu terjadi menjelang hari besar keagamaan.

Kondisi tersebut dikeluhkan warga dari berbagai kalangan usia. Novi (34), ibu rumah tangga yang ditemui di Pasar Penuin, mengatakan ia harus menyesuaikan anggaran belanja keluarga. “Biasanya beli cabai setengah kilo untuk stok awal puasa, sekarang paling seperempat saja. Harganya jauh lebih mahal dibanding cerita keluarga saya di luar Batam,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Anwar (41), karyawan swasta yang berbelanja di Pasar Tos 3000. Ia menilai selisih harga dengan kota lain cukup terasa. “Kalau dibandingkan daerah penghasil, jelas di Batam lebih tinggi. Kami harus lebih selektif supaya pengeluaran tidak membengkak,” katanya.

Anggota Asosiasi Pedagang Pasar Batam, Puput Wicaksono, menjelaskan bahwa perbedaan harga dengan kota sekitar dipengaruhi faktor distribusi dan pasokan. “Batam sangat bergantung pada daerah lain.

Jika cuaca buruk atau kapal terlambat, stok berkurang dan harga langsung naik. Ini yang membuat harga di Batam sering lebih tinggi,” jelasnya.

Ia berharap ada koordinasi lintas daerah untuk menjaga kelancaran distribusi selama Ramadan agar lonjakan harga tidak semakin membebani masyarakat.

Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, pihak Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Batam belum memberikan tanggapan resmi terkait selisih harga cabai yang lebih tinggi dibandingkan kota sekitar.

Masyarakat diimbau untuk memantau perkembangan harga secara berkala melalui pasar setempat maupun situs resmi seperti Panel Harga Pangan dengan memilih wilayah Batam, guna memperoleh informasi harga harian yang lebih akurat selama Ramadan.

Posted in Batam and tagged .