Imlek di Batam: Dari Panggung Budaya Menuju Konsolidasi Kota Industri dan Toleransi

Batam – Kawasan Pecinan Nagoya, Jodoh, Kota Batam, dipenuhi ribuan warga yang memadati persimpangan Sei Jodoh, Senin malam (16/2). Perayaan Imlek 2577 Kongzili tak sekadar menghadirkan atraksi barongsai, tari lintas budaya, dan pesta kembang api, tetapi juga menjadi ruang konsolidasi pesan tentang arah masa depan Batam.

Di bawah cahaya lampion dan gemuruh tambur barongsai, perayaan tahun ini terasa berbeda. Kehadiran Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) serta Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mempertegas bahwa Imlek di Batam bukan hanya agenda budaya, tetapi juga momentum strategis.

AHY menyebut Batam sebagai miniatur Indonesia yang hidup dalam keberagaman. Ia mengapresiasi harmoni sosial yang menurutnya menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi. “Ini spesial sekali. Pertama kali saya turut merayakan Tahun Baru Imlek di Batam,” ujarnya di hadapan masyarakat.

Menurutnya, kekuatan Batam sebagai kawasan perdagangan bebas harus ditopang stabilitas sosial dan kolaborasi lintas sektor. Ia menekankan pentingnya hilirisasi industri dan peningkatan penyerapan tenaga kerja agar Batam semakin kompetitif di kawasan Asia Tenggara.

Sementara itu, Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, memaknai pergantian tahun sebagai momen refleksi pembangunan. Didampingi Wakil Wali Kota Li Claudia Chandra, ia menyampaikan bahwa capaian ekonomi Batam menunjukkan tren positif.

Pertumbuhan ekonomi tercatat meningkat dari 6,6 persen menjadi 6,89 persen. Realisasi investasi juga melampaui target nasional, dari Rp60 triliun menjadi Rp69,3 triliun atau setara 115,5 persen. Angka tersebut menjadi indikator bahwa Batam tetap menjadi magnet investasi di tengah ketidakpastian global.

Namun, di balik capaian itu, pemerintah daerah mengakui masih adanya tantangan, khususnya dalam penyediaan layanan dasar seperti air bersih. Amsakar menegaskan komitmen untuk mempercepat pembenahan infrastruktur agar pertumbuhan ekonomi berjalan seiring peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Imlek 2577 di Batam akhirnya menjadi lebih dari sekadar perayaan budaya. Ia menjelma sebagai panggung pertemuan antara identitas multikultural dan ambisi industrialisasi. Dari dentum tambur barongsai hingga kilau kembang api di langit malam, pesan yang mengemuka jelas: Batam sedang meneguhkan diri sebagai kota toleran yang terus bergerak menuju pusat pertumbuhan baru di Indonesia.

Posted in Batam and tagged .