Batam – Kenaikan harga daging sapi segar di sejumlah pasar tradisional Batam dalam beberapa hari terakhir berpotensi menambah tekanan inflasi daerah. Komoditas daging sapi dan cabai selama ini tercatat sebagai penyumbang utama inflasi pada kelompok bahan makanan, terutama menjelang hari besar keagamaan.
Pantauan Media Indonesia, Selasa (16/2), di Pasar Tiban Center menunjukkan harga daging sapi segar saat ini berada di angka Rp150 ribu per kilogram, sedangkan daging sapi beku dijual Rp115 ribu per kilogram. Pedagang menyebut harga daging segar mengalami kecenderungan naik mengikuti dinamika pasokan dan peningkatan permintaan.
Selain daging sapi, sejumlah komoditas pangan lainnya juga mengalami kenaikan. Harga cabai merah naik dari Rp45 ribu menjadi Rp50 ribu per kilogram. Cabai rawit turut meningkat Rp5 ribu, dari Rp60 ribu menjadi Rp65 ribu per kilogram.
Kenaikan juga terjadi pada komoditas sayuran. Harga kol naik dari Rp10 ribu menjadi Rp12 ribu per kilogram, sementara tomat terkerek Rp4 ribu dari Rp14 ribu per kilogram. Di sisi lain, harga daging ayam justru turun dari Rp41 ribu menjadi Rp39 ribu per kilogram.
Kondisi serupa terpantau di Pasar Tos 3000 Jodoh. Harga cabai rawit setan melonjak cukup signifikan dari Rp60 ribu menjadi Rp85 ribu per kilogram dalam tiga hari terakhir. Cabai rawit hijau berada di kisaran Rp60–65 ribu per kilogram, sedangkan cabai merah keriting dijual sekitar Rp60 ribu per kilogram.
Seorang pedagang di Pasar Tos 3000 Jodoh, Deus, mengatakan lonjakan harga terjadi akibat meningkatnya permintaan menjelang Imlek dan Ramadan, sementara pasokan dari daerah penghasil belum stabil.
“Baru sekitar tiga hari ini naik. Sebelumnya cabai rawit setan masih Rp60 ribu per kilo, sekarang sudah Rp85 ribu. Lumayan juga naiknya,” ujarnya.
Tak hanya cabai, harga kacang panjang juga naik dari Rp15–20 ribu menjadi Rp30 ribu per kilogram. Menurut pedagang, pergerakan harga saat ini cenderung cepat dan fluktuatif.
“Hampir semua jenis sayuran sempat naik. Kadang hari ini naik, besok bisa normal lagi atau turun,” katanya.
Di sisi konsumen, kenaikan harga mulai memengaruhi pola belanja. Neni, seorang ibu rumah tangga, mengaku harus lebih selektif dalam membeli kebutuhan dapur. Ia mengurangi jumlah pembelian cabai dan beberapa bahan lainnya agar pengeluaran tetap sesuai anggaran.
“Kalau harga naik begini, belanja harus dikurangi. Tidak bisa seperti biasa,” ujarnya.
Pengamat ekonomi menilai, jika tren kenaikan harga pangan ini terus berlanjut, maka potensi tekanan inflasi di Batam akan semakin besar. Apalagi, komoditas seperti daging sapi dan cabai memiliki bobot cukup tinggi dalam perhitungan inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Momentum menjelang hari besar keagamaan biasanya diikuti lonjakan permintaan, sehingga kestabilan pasokan menjadi faktor penting dalam menjaga harga tetap terkendali. Pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat koordinasi distribusi dan memastikan ketersediaan stok agar lonjakan harga tidak berlanjut dan membebani daya beli masyarakat.

