Kerusakan parah terjadi di ruas Jalan Sei Ladi, jalur penghubung dari kawasan Hotel Vista menuju Tiban, Kota Batam. Sebuah lubang besar muncul di badan jalan pada Minggu (1/2), diduga akibat aktivitas truk pengangkut tanah bertonase berat yang kerap melintas di kawasan tersebut.
Kondisi jalan yang rusak ini mengganggu kelancaran arus lalu lintas dan menimbulkan risiko keselamatan bagi pengguna jalan, khususnya pengendara sepeda motor. Sejumlah pengendara mengaku harus memperlambat laju kendaraan secara signifikan untuk menghindari lubang yang menganga di tengah badan jalan.
“Hati-hati melintas di Jalan Sei Ladi, karena jalannya rusak dan berlubang cukup besar,” ujar seorang pengendara sepeda motor yang ditemui di lokasi, Minggu (1/2).
Warga sekitar menyebutkan, truk-truk pengangkut tanah kerap melintas hampir sepanjang hari. Kendaraan tersebut diduga berasal dari aktivitas cut and fill di sekitar kawasan Sei Ladi. Menurut warga, muatan truk sering kali melebihi kapasitas jalan, sehingga mempercepat kerusakan aspal dan struktur jalan.
Hingga berita ini diturunkan, belum terlihat adanya penanganan darurat dari instansi terkait, seperti pemasangan rambu peringatan atau perbaikan sementara untuk meminimalkan risiko kecelakaan lalu lintas.
Kerusakan jalan ini kembali memunculkan perhatian terhadap dampak aktivitas pembangunan terhadap infrastruktur publik. Aktivitas cut and fill memang berkontribusi terhadap pendapatan daerah melalui perizinan dan retribusi. Namun, di sisi lain, kerusakan jalan menimbulkan beban anggaran pemerintah untuk melakukan perbaikan.
Aktivis kebijakan publik menilai, kerusakan Jalan Sei Ladi mencerminkan lemahnya pengawasan pemerintah terhadap aktivitas kendaraan bertonase berat. Padahal, ketentuan mengenai batas muatan, jam operasional, serta kewajiban pemulihan jalan pascaproyek telah diatur dalam regulasi yang berlaku.
Menurut mereka, tanpa pengawasan dan penegakan aturan yang konsisten, kerusakan infrastruktur publik akan terus berulang dan pada akhirnya merugikan masyarakat. Selain membahayakan keselamatan pengguna jalan, kondisi tersebut juga berpotensi membebani anggaran pemerintah daerah akibat biaya perbaikan yang tidak sedikit.
“Jika pengawasan tidak diperketat, kerusakan infrastruktur seperti di Jalan Sei Ladi akan terus berulang. Pada akhirnya, masyarakat yang menanggung risiko keselamatan sekaligus beban anggaran perbaikan,” kata Andi Maslan salah seorang aktivis kebijakan publik dari Univeritas Putera Batam.
Warga berharap Pemerintah Kota Batam dan instansi terkait segera melakukan peninjauan lapangan, menertibkan kendaraan yang melanggar ketentuan, serta memastikan adanya tanggung jawab dari pelaku usaha atas kerusakan infrastruktur yang ditimbulkan.

