Stabilitas fiskal Batam tercatat dalam kondisi yang sangat positif, didukung oleh pengendalian inflasi yang rendah, serta pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Dengan laju inflasi tahunan yang stabil di kisaran 2–3%, Batam berhasil menjaga daya beli masyarakat meskipun tantangan ekonomi global semakin nyata.
Perekonomian Batam pada tahun 2024 diprediksi mencatatkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita sebesar Rp182 juta (ADHB), sebuah angka yang menunjukkan daya saing tinggi bagi daerah ini. Bahkan, Batam mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,69%, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan angka pertumbuhan nasional yang hanya tercatat pada 5,03%. Angka pertumbuhan ini mencerminkan potensi besar Batam sebagai pusat industri dan perdagangan yang mendominasi kawasan Kepulauan Riau.
Dari sisi fiskal, Batam tidak menghadapi masalah utang signifikan. Meskipun ada alokasi anggaran sebesar Rp250 miliar untuk provinsi, Batam sendiri tetap menjaga kestabilan rasio fiskal yang sehat. Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang tinggi dari sektor industri dan perdagangan menjadi pilar utama dalam menjaga kemandirian fiskal daerah ini. Sumber PAD yang beragam memungkinkan Batam untuk menghindari ketergantungan berlebihan pada dana transfer dari pusat.
Namun, di balik pencapaian tersebut, Batam tetap menghadapi risiko utama, yakni ketergantungan terhadap transfer pusat dan fluktuasi ekonomi global. Pengaruh dari kebijakan pusat dan dinamika pasar internasional dapat mempengaruhi stabilitas fiskal jika tidak diantisipasi dengan baik. Meski demikian, daya saing investasi Batam yang kuat dan keberadaan sektor industri strategis menjadi mitigasi yang efektif terhadap risiko defisit anggaran. Para pelaku industri di Batam juga terus berupaya menjaga iklim investasi yang kondusif, mendukung pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja yang berkelanjutan.
Ke depan, meskipun tantangan dari fluktuasi ekonomi global dan ketergantungan pada alokasi transfer pusat tetap ada, Batam memiliki landasan ekonomi yang solid dan kebijakan fiskal yang terukur untuk mempertahankan stabilitas fiskal dan melanjutkan pertumbuhannya yang pesat.
Sebagai pihak yang terlibat langsung dalam sektor keuangan dan perbankan, kami mengapresiasi langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah Batam dalam menjaga kestabilan fiskal dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang positif. Angka inflasi yang terjaga di kisaran 2–3% tahunan menunjukkan pengelolaan kebijakan moneter yang baik, yang tentunya berkontribusi terhadap daya beli masyarakat yang tetap stabil.
“Pencapaian PDRB per kapita sebesar Rp182 juta (ADHB) dan angka pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari nasional (6,69%) juga merupakan sinyal positif bagi iklim investasi dan sektor perbankan. Sebagai sektor yang sangat tergantung pada kegiatan ekonomi riil, pertumbuhan ini memberikan prospek yang baik bagi kami untuk mendukung sektor industri dan perdagangan yang berkembang di Batam,” ujar salah satu seorang analis keuangan di Batam.
Namun, katanya, pihaknya juga mengingatkan pentingnya menjaga agar ketergantungan terhadap transfer pusat tetap dalam batas wajar. Meskipun Batam memiliki sektor PAD yang kuat, transfer pusat tetap menjadi salah satu faktor penentu kelangsungan anggaran daerah. Oleh karena itu, keberlanjutan kebijakan fiskal yang cermat dan berfokus pada diversifikasi sumber pendapatan sangat penting untuk menjaga kemandirian keuangan daerah.
Dari sisi perbankan, mencermati adanya potensi risiko yang datang dari fluktuasi ekonomi global, terutama dalam hal pengaruh terhadap sektor perdagangan dan industri yang mengandalkan ekspor impor. Oleh karena itu, upaya mitigasi risiko yang terus dilakukan oleh pemerintah Batam dengan meningkatkan daya saing investasi sangat kami dukung, mengingat bahwa stabilitas investasi akan berimbas langsung pada kelancaran kegiatan ekonomi dan perbankan di daerah ini.
Secara keseluruhan, Batam memiliki fondasi fiskal yang sangat baik untuk terus berkembang, dan kami sebagai pihak perbankan siap mendukung kebijakan pemerintah dalam meningkatkan sektor-sektor strategis yang mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

