The Grand Old Man ( Orang Tua Besar ) merupakan sebuatan yang melekat pada dirinya berkat kecemerlangan beliau dalam karier politik antara tahun 1946 – 1950, bahkan sempat menjabat Menteri Luar Negeri Indonesia pada kabinet presidensial dan pada tahun 1950 dan sampai akhir hayatnya dipercaya sebagai Penasehat Menteri Luar Negeri.
Semasa hidupnya Agus Salim jauh dari kata kemewahan, seorang dengan segudang prestasi dan jabatan tinggi sebuah Negara lebih memilih hidup sederhana di saat kemewahan dapat direngkuh dengan mudah dalam genggaman tangannya. Beliau selalu mengedepankan prinsip dan perjuangan bangsa di atas materi, seluruh langkah dan pemikirannya dia persembahkan untuk kepentingan negeri bahkan tanpa memperdulikan diri dan keluarga nya sendiri.
Beliau tak pernah merasakan mempunyai tempat tinggal (Rumah) sendiri yang ia huni bersama istrinya Zaenatun Nahar Almatsier dan 10 anak-anaknya. Selama hidupnya ia selalu berpindah – pindah tempat tinggal dari kontrakan satu ke kontrakan yang lain bahkan tanpa listrik yang memadai dengan desain rumah yang benar-benar minimalis. Dalam hal berpakaian pun jauh dari kata rapih, apalagi berpenampilan parlente dan necis layaknya pejabat-pejabat tinggi Negara kebanyakan pada saat melakukan pertemuan maupun acara resmi. Beliau tidak malu meski hanya memakai pakaian sederhana dengan beberapa tambalan dan topi tua.
Dari sekilas cara hidup seorang Agus Salim menggambarkan bahwa seorang pemimpin harus siap menderita untuk rakyatnya, bahkan seluruh kesenangan dan kebahagian ia korbankan demi kesejahtaraan orang lain (dalam hal ini rakyat yang dipimpinnya).

