Ekonomi – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing kembali menjadi perhatian pelaku usaha dan masyarakat di Batam. Bank Indonesia (BI) merilis Kurs Transaksi BI pada Selasa, 23 Desember 2025, yang menjadi acuan transaksi BI dengan pihak ketiga, termasuk pemerintah.
Sebagai kota industri dan perdagangan internasional, Batam sangat dipengaruhi oleh fluktuasi kurs, terutama Dolar Singapura (SGD) dan Dolar Amerika Serikat (USD).
Berdasarkan data resmi BI, SGD tercatat memiliki kurs jual Rp13.056,21 dan kurs beli Rp12.924,29 per 1 SGD. Mata uang Singapura ini memiliki peran penting dalam aktivitas ekonomi Batam, mengingat tingginya interaksi perdagangan, pariwisata, dan jasa dengan Singapura.
Sementara itu, USD yang banyak digunakan dalam transaksi ekspor-impor dan industri manufaktur di Batam, ditetapkan dengan kurs jual Rp16.856,87 dan kurs beli Rp16.689,13 per 1 USD.
Pelaku usaha menilai pergerakan kurs tersebut perlu dicermati karena berdampak langsung pada biaya bahan baku impor, harga jual produk, hingga nilai kontrak kerja sama dengan mitra luar negeri.
Selain SGD dan USD, sejumlah mata uang lain juga tercatat dalam Kurs Transaksi BI. Yuan Tiongkok (CNY) memiliki kurs jual Rp2.395,36 dan kurs beli Rp2.371,26. Euro (EUR) ditetapkan dengan kurs jual Rp19.773,11 dan kurs beli Rp19.573,01, sedangkan Poundsterling Inggris (GBP) berada di level kurs jual Rp22.615,18 dan kurs beli Rp22.383,46.
Adapun Dolar Hong Kong (HKD) tercatat dengan kurs jual Rp2.167,11 dan kurs beli Rp2.145,44. Untuk Yen Jepang (JPY), BI menetapkan kurs jual Rp10.703,45 dan kurs beli Rp10.596,27 untuk nominal 100 JPY.
Bank Indonesia menjelaskan bahwa Kurs Transaksi BI ditetapkan berdasarkan titik tengah kurs acuan (JISDOR) hari kerja sebelumnya (H-1) dan diperbarui sekali setiap hari kerja pada pukul 08.00 WIB.
Di Batam, kurs ini kerap dijadikan referensi oleh pelaku industri, UMKM, hingga instansi pemerintah dalam perhitungan transaksi resmi. Dengan tingginya ketergantungan Batam pada perdagangan internasional, stabilitas nilai tukar menjadi faktor penting dalam menjaga iklim usaha dan daya saing ekonomi daerah.
Pelaku usaha manufaktur di Batam menilai pergerakan kurs, khususnya terhadap dolar AS dan dolar Singapura, perlu dicermati menjelang akhir tahun.
“Sebagian besar bahan baku kami masih impor dan menggunakan dolar AS. Ketika rupiah melemah, biaya produksi otomatis naik, sehingga kami harus lebih berhati-hati dalam menyusun harga dan kontrak,” ujar Yan Chen Tan, 46, seorang pelaku industri manufaktur di kawasan Batamindo, Selasa (23/12).
Sementara itu, pelaku usaha sektor pariwisata menyebut nilai tukar terhadap dolar Singapura cukup berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan.
“Wisatawan Singapura sangat sensitif terhadap kurs. Kalau nilai tukar lebih stabil, biasanya minat berkunjung ke Batam juga lebih baik karena biaya dianggap lebih kompetitif,” kata Yadi, 37, pengelola hotel di Nagoya, Batam.
Ekonom regional Kepulauan Riau menilai Kurs Transaksi BI menjadi indikator penting bagi daerah seperti Batam yang bergantung pada perdagangan luar negeri.
“Batam memiliki keterkaitan kuat dengan ekonomi global. Pergerakan kurs SGD dan USD tidak hanya berdampak pada industri besar, tetapi juga UMKM dan sektor jasa. Karena itu, stabilitas nilai tukar menjadi kunci menjaga daya saing Batam,” ujar seorang ekonom Hazriyanto, Ketua STIE Galileo Batam.
Ia menambahkan, pelaku usaha di Batam disarankan untuk mulai mengantisipasi fluktuasi kurs dengan manajemen risiko yang lebih baik.
“Pelaku usaha bisa melakukan lindung nilai sederhana atau penyesuaian kontrak agar tidak terlalu terdampak oleh volatilitas nilai tukar,” jelasnya. (min)

