Batam – Harga cabai di Kota Batam tengah “mengamuk”. Dalam sepekan terakhir, harga komoditas pangan ini melonjak tajam hingga dua kali lipat, menyusul terputusnya pasokan dari sejumlah sentra produksi di Sumatra akibat banjir dan tanah longsor di Sumatera.
Pantauan di pasar-pasar tradisional Media Indonesia hari ini di Kawasan Batuaji, Sagulung, Batam Centre, Sekupang hingga Nagoya menunjukkan harga cabai meroket dan memicu keluhan pedagang maupun pembeli. Lonjakan ini mulai terasa sejak Rabu (17/12) dan terus berlanjut hingga Jumat (19/12).
Syahrial, 38, pedagang toko kelontong di kawasan Baloi Mas, mengaku kewalahan menghadapi protes pelanggan.
“Terpaksa jual mahal karena harga dari agen sudah naik. Pembeli banyak yang komplain,” katanya, Jumat (19/12).
Keluhan juga datang dari masyarakat. Rita, 55, warga Batuaji, menyebut belanja harian kini makin berat.
“Uang belanja sehari habis cuma buat beli cabai. Sekarang semua mahal,” ujarnya.
Kondisi ini memicu kekhawatiran warga, terlebih menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, di mana kebutuhan pangan biasanya meningkat.
Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Batam, Wahyu Daryatin, menjelaskan lonjakan harga terjadi akibat terganggunya distribusi cabai dari Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh.
“Cuaca ekstrem menyebabkan banjir, longsor, bahkan jembatan putus, sehingga pasokan dari Sumatera terhenti,” jelasnya.
Ia merinci, harga cabai setan saat ini melonjak ke kisaran Rp120 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram. Sementara cabai merah besar dan cabai rawit masing-masing mencapai Rp75 ribu per kilogram. Di pasar tradisional, harga cabai merah bahkan menyentuh Rp120 ribu per kilogram, sedangkan cabai hijau sekitar Rp100 ribu per kilogram.
Batam Andalkan Suplai Alternatif
Menurut dia, kebutuhan cabai di Batam mencapai sekitar 15 ton per hari untuk konsumsi masyarakat, dan bisa menembus lebih dari 20 ton per hari untuk kebutuhan pasar secara keseluruhan.
“Karena pasokan utama dari Sumatra terganggu, Batam saat ini mengandalkan suplai alternatif dari Jawa dan Nusa Tenggara Barat, terutama Mataram,” ujarnya.
Namun, upaya ini belum sepenuhnya menstabilkan harga. Selain karena jarak distribusi yang lebih jauh, cabai juga memiliki masa simpan yang singkat, hanya sekitar 3–5 hari.
Hingga kini, belum ada kepastian kapan pasokan dari Sumatera kembali normal, mengingat kondisi bencana di wilayah tersebut masih cukup parah.
Dampak lonjakan harga ini pun memaksa warga beradaptasi. Hestiyani, ibu rumah tangga di Batam, mengaku mulai mengurangi konsumsi makanan pedas.
“Sekarang masak tidak terlalu pedas dulu, biar belanja bisa lebih hemat,” katanya. (san)

