Kelapa Sawit mulai datang dan berkembang di kawasan Asia Tenggara sekitar pada Abad ke 20.
Dengan datangnya bangsa eropa membuka jalur perdagangan di kawasan Asia, dan dalam hitungan dekade hutan-hutan tropis di wilayah ini di buka untuk monokultur kelapa sawit.
Bahkan sampai dengan sekarang kawasan asia tenggara khususnya daerah Indonesia dan Malaysia merupakan penguasa lebih dari 85% produksi dunia.
Kelapa sawit adalah tumbuhan asli dari Afrika Barat, bahkan telah membentuk hubungan yang mendalam dengan masyarat di kawasan tersebut.
Menyebarnya tumbuhan kelapa sawit itu sendiri terjadi sekitar 2.500 tahun yang lalu saat musim kemarau panjang membuka ruang bagi tumbuhnya pohon-pohon baru.
Adapun dalam hal pengelolaan dan pengolahan kelapa sawit di Afrika memperkerjakan kaum perempuaqn sebagai tenaga kerjanya. Mereka merebus buah sawit berulang kali, menyaringnya, lalu mengekstrak minyak merah daging buah.
Dengan cara yang sama, mereka juga memecah biji keras untuk menghasilkan minyak biji sawit yang berawarna bening kecoklatan, bahkan hingga saat ini kebiasaan tersebut masih dapat kita jumpai di wilayah Afrika Barat.
Minyak Sawit itu sendiri mulai dikenal di Eropa sejak Abad ke 15 dan mengalami lonjakan permintaan pada awal abad ke – 19 bersamaan dengan perdagangan budak Afrika yang dikirim ke Eropa sebagai pekerja di sana.
Adapun masyarakat Eropa telah mengetahui akan manfaat dan kegunaan Minyak sawit yang memicu mereka beralih menjadikan kelapa sawit menjadi komoditi perdagangan.
Mengutip dari NationalGeographic.grid.id bahwa Pada akhir abad ke-19, permintaan sawit kembali melonjak setelah ilmuwan Eropa menemukan proses hidrogenasi untuk membuat margarin. Produk baru ini menjadi sumber lemak murah bagi kelas pekerja perkotaan.
Pada periode ini, kekuatan kolonial mulai menguasai Afrika Barat. Inggris dan Prancis mendirikan koloni di Senegal, Lagos, Gold Coast, dan Nigeria, memperkuat kendali atas perdagangan minyak sawit. (pj)

