Kecil di Mata Mereka, Oksigen bagi Harapanku

Oleh: KIL

Aku akan mulai dengan sebuah pengakuan yang mungkin terdengar familier: ada kalanya hidup terasa seperti labirin yang gelap. Kita berjalan tanpa peta, tersandung di setiap belokan, dan langit seolah tertutup rapat oleh awan kelam kita sendiri. Dalam kekacauan itu, yang paling menusuk bukanlah besarnya masalah, melainkan kesendirian yang menyertainya. Perasaan bahwa kita berjuang sendirian di tengah keramaian, bahwa jeritan hati kita tenggelam oleh kebisingan dunia.

Pada puncak hari-hari seperti itulah, dunia terasa hampa. Seperti celengan yang kita giggung-giggit, berharap ada koin penyelamat, tapi yang keluar hanya angin dan kepasrahan. Logika sudah tak berdaya. Nasihat-nasihat bijak terdengar seperti suara yang teredam, masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. Yang kita rasakan hanyalah sebuah kehampaan yang dalam.

Lalu, datanglah “koin” itu.

Bukan koin emas yang menggemercik, bukan solusi instan yang menyelesaikan segalanya. Melainkan sebuah koin receh, sederhana, yang seringkali dilempar dengan ucapan, “Ah, ini sih cuma kecil.”

Aku ingat persis sebuah sore di mana aku duduk terpaku di depan laptop, pikiran dipenuhi oleh kegagalan yang bertumpuk. Rasanya seperti akan tenggelam dalam lautan keputusasaan sendiri. Lalu, ponsel bergetar. Seorang teman—bukan yang terdekat, bukan yang setiap hari mengobrol—hanya mengirimkan satu pesan singkat:

“Minum air yang cukup hari ini?”

Itu hanya delapan kata. Bukan transferan uang yang mengatasi utang, bukan nasihat motivational panjang lebar, bukan juga janji kosong. Hanya delapan kata yang sepele.

Tapi di detik itu, pesan itu bagaikan oksigen yang dihirup seseorang yang hampir kehabisan napas. Itu seperti seseorang yang mengetuk-ngetuk pintu kegelapanku dengan lembut dan berkata, “Hei, aku di sini. Dunia luar masih ada, dan ada yang memperhatikanmu.”

Itu bukan sekadar pertolongan kecil. Itu adalah pengingat bahwa aku masih terlihat.

Dan bagi seseorang yang hampir hilang dalam bayangannya sendiri, menjadi ‘terlihat’ adalah pertolongan yang sesungguhnya. Itu adalah pengakuan bahwa keberadaan kita masih bermakna, bahwa ada seberkas cahaya yang masih menyoroti kita, bahkan di saat kita merasa paling tak berarti.

Inilah paradoks dari pertolongan “kecil”.

Bagi si pemberi, itu hanyalah secangkir kopi yang mereka tambahkan saat memesan untuk kita. Bagi kita, itu adalah kehangatan yang mengalir hingga ke tulang tenggorokan. Bagi si pemberi, itu hanyalah tawaran untuk menjemput kita di halte. Bagi kita, itu adalah kepastian bahwa kita tidak akan tersesat di malam hari. Bagi si pemberi, itu hanyalah pesan singkat, “Gimana kabarnya?” Bagi kita, itu adalah tali penyelamat yang dilemparkan ke tengah lautan kesepian.

Kebaikan-kebaikan mikro inilah yang justru paling jujur. Ia tidak dihitung, tidak diungkit, dan diberikan tanpa beban. Ia tidak berniat mengubah hidup kita dalam sekejap, tetapi ia mengubah *cara* kita menjalani hidup saat itu juga. Ia memberikan kita kekuatan untuk bangkit dan berkata, “Oke, satu teguk lagi. Satu langkah lagi.”

Jadi, lain kali ketika kita ingin menolong seseorang tapi ragu karena merasa yang kita punya “terlalu kecil”, ingatlah cerita ini. Ingatlah bahwa di balik senyuman seseorang, bisa jadi ada badai yang hanya menunggu setitik cahaya untuk mereda.

Dan bagi kita yang sedang berada di dalam labirin, terimalah “koin receh” itu dengan terbuka. Jangan tolak hanya karena itu terlihat tidak signifikan. Karena terkadang, justru koin-koin receh itulah—dikumpulkan satu per satu dengan tulus—yang pada akhirnya cukup untuk membeli kita secangkir harapan, dan kekuatan untuk menemukan jalan keluar.

Posted in Budaya and tagged , , .